Pipa Offshore South Sumatra–West Java (SSWJ) Phase II merupakan pipa transmisi gas bawah laut berdiameter 32 inci yang membentang di perairan Laut Jawa, menghubungkan Labuhan Maringgai hingga Muara Bekasi. Kondisi topografi dasar laut yang tidak seragam sepanjang jalur pipa berpotensi menimbulkan bentang bebas (free span) yang dapat memicu Vortex-Induced Vibration (VIV) dan kegagalan fatigue. Penelitian ini bertujuan menentukan ketebalan dinding pipa berdasarkan standar DNV-ST-F101 serta mengevaluasi kriteria propagating buckle menggunakan standar API-RP-1111 sebagai pembanding, menentukan ketebalan lapisan beton berdasarkan standar DNV-RP-F109, menentukan panjang bentang bebas izin berdasarkan standar DNV-RP-F105, serta menentukan tingkat risiko kegagalan fatigue pada segmen pipa yang mengalami bentang bebas. Analisis panjang bentang bebas dilakukan menggunakan kriteria screening fatigue dan Ultimate Limit State (ULS). Penilaian risiko fatigue dilakukan dengan menghitung probabilitas kegagalan (PoF) menggunakan distribusi Weibull terhadap kecepatan arus izin, dan konsekuensi kegagalan (CoF) berdasarkan kriteria PGN, yang kemudian dikombinasikan dalam matriks risiko. Hasil menunjukkan ketebalan dinding pipa sebesar 17,917 mm berdasarkan DNV-ST-F101, dengan ketebalan terpilih 19,05 mm. Tebal lapisan beton yang dibutuhkan pada Zona 17 Segmen 1 adalah 160 mm. Panjang bentang bebas izin pada Zona 17 adalah 28,72 m dengan kriteria screening fatigue sebagai kriteria yang menentukan. Berdasarkan tingkat risiko governing Zona 3,4,9,10,12,13,14 dan 17 diklasifikasikan sebagai High dan Zona 11 sebagai Moderate.
Perpustakaan Digital ITB