Pariwisata bahari melalui pengembangan layanan kapal pesiar (cruise) menjadi salah satu sektor yang terus menunjukkan pertumbuhan signifikan secara global, termasuk di Indonesia. Bali, sebagai destinasi wisata internasional dengan daya tarik budaya dan alam yang kuat, memiliki Pelabuhan Benoa yang telah lama berperan sebagai port of call bagi kapal pesiar internasional. Namun demikian, potensi Pelabuhan Benoa untuk berkembang lebih jauh menjadi homeport, yaitu pelabuhan pangkalan tempat kapal pesiar memulai dan mengakhiri pelayaran serta melakukan pergantian penumpang dalam jumlah besar, belum dikaji secara menyeluruh, padahal status homeport memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan status port of call karena mendorong lama tinggal wisatawan, penggunaan fasilitas darat, serta perputaran ekonomi di kawasan sekitar pelabuhan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kesiapan Pelabuhan Benoa sebagai homeport kapal pesiar internasional ditinjau dari empat aspek utama, yaitu kesesuaian fasilitas dan pelayanan pelabuhan terhadap standar homeport internasional, potensi permintaan (demand), ketersediaan market hinterland serta kesiapan kawasan pendukung (supporting area) di Bali, dan penyusunan rekomendasi strategi pengembangan bagi para pemangku kepentingan.
Metode yang digunakan bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Identifikasi market hinterland dilakukan melalui pembobotan skor terhadap indikator PDRB, indeks konsumsi rekreasi, jumlah penduduk, dan aksesibilitas penerbangan pada seluruh provinsi di Indonesia. Proyeksi permintaan penumpang disusun menggunakan metode Multiple Linear Regression (MLR) dan Program Evaluation and Review Technique (PERT) hingga tahun 2055 dengan tiga skenario, yaitu pesimis, moderat, dan optimis. Evaluasi fasilitas eksisting dilakukan melalui pembandingan terhadap standar PIANC Working Group 152 (2016), sedangkan evaluasi kepuasan dan prioritas perbaikan pelayanan menggunakan Importance-Performance Analysis (IPA) gabungan terhadap lima kelompok responden, yaitu penumpang, travel agent, port operator, divisi teknik, dan KSOP. Sebagai pembanding, dilakukan pula studi banding terhadap Pelabuhan Tanjung Priok yang memiliki pengalaman serupa dalam upaya pengembangan homeport kapal pesiar, serta terhadap Marina Bay Cruise Centre Singapore sebagai homeport yang telah beroperasi mapan di kawasan regional.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pelabuhan Benoa secara umum telah memenuhi sebagian besar persyaratan fasilitas homeport, meskipun masih terdapat beberapa kesenjangan, yaitu lebar apron area yang belum memenuhi rekomendasi, belum tersedianya fasilitas sewage reception, keterbatasan kapasitas terminal pada kondisi puncak, serta penggunaan gangway manual. Hasil benchmarking terhadap Marina Bay Cruise Centre Singapore menunjukkan bahwa Pelabuhan Benoa relatif kompetitif terhadap tujuh dari delapan kriteria homeport yang dibandingkan, dengan satu-satunya kesenjangan utama pada aspek tarif jasa kepelabuhanan yang tercatat sekitar dua kali lebih tinggi. Proyeksi permintaan menunjukkan tren peningkatan yang konsisten hingga tahun 2055, baik untuk penumpang domestik maupun asing, didukung oleh teridentifikasinya delapan provinsi yang berpotensi sebagai market hinterland, yaitu DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Jambi, dan Maluku Utara. Kawasan pendukung di Bali dinilai cukup mumpuni dari sisi ketersediaan destinasi wisata, akomodasi, dan konektivitas antara bandara, pelabuhan, dan kawasan wisata, namun masih menghadapi tantangan berupa kemacetan lalu lintas pada koridor bandara-pelabuhan-kota, keterbatasan peran dinas pariwisata dalam pengelolaan shore excursion, gejala overtourism, serta praktik overcharging di beberapa destinasi.
Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi pengembangan yang disusun mencakup tiga strategi utama yang saling terintegrasi. Pertama, strategi konektivitas dan ekosistem wisata, melalui koordinasi manajemen lalu lintas pada koridor bandara-pelabuhan bersama Dinas Perhubungan, diversifikasi paket shore excursion bersama Dinas Pariwisata dan travel agent, serta peningkatan kompetensi dan sertifikasi pemandu wisata berbahasa asing. Kedua, strategi kelembagaan dan regulasi, merujuk pada model dukungan pemerintah Singapura terhadap Marina Bay Cruise Centre berupa insentif finansial, skema pendanaan pengembangan cruise, dan penguatan konektivitas fly-cruise. Ketiga, strategi efisiensi embarkasi-debarkasi melalui optimalisasi terminal, yang menjadi rekomendasi prioritas karena secara langsung menjawab kesenjangan fisik dan operasional terminal, melalui relayout Terminal Penumpang Dermaga Timur yang mencakup pemisahan area publik dan area steril, penyediaan priority waiting area, optimalisasi area komersial, serta perluasan peran Pelindo dalam pengelolaan terminal. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Pelabuhan Benoa memiliki tingkat kesiapan yang baik untuk dikembangkan sebagai international cruise homeport, dengan keberhasilan implementasinya ke depan bergantung pada konsistensi pelaksanaan ketiga strategi tersebut secara terintegrasi serta kolaborasi antarpemangku kepentingan.
Perpustakaan Digital ITB