Pertumbuhan penduduk perkotaan di Indonesia yang terus meningkat berdampak pada penurunan kualitas lingkungan perkotaan, ditandai dengan berkurangnya vegetasi perkotaan dan meningkatnya kepadatan bangunan. Kondisi ini menyebabkan masyarakat perkotaan semakin terbatas dalam merasakan elemen alam, khususnya selama jam kerja di dalam ruangan sehingga tidak memiliki cara untuk meredakan kondisi negatif yang muncul selama jam kerja, sehingga kondisi-kondisi tersebut terakumulasi dan berdampak pada penurunan konsentrasi, peningkatan kesalahan kerja, serta menurunnya produktivitas. Desain biophilic merupakan pendekatan yang mengimplementasikan elemen alami ke dalam ruangan dan terbukti memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan psikologis, respons fisiologis, maupun kinerja kognitif, namun penelitian eksperimental mengenai desain biophilic di ruang kerja pada negara berkembang seperti Indonesia masih sangat terbatas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh desain biophilic dengan atribut greenery, water features, dan multisensory experience terhadap kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis pekerja.
Penelitian ini menggunakan desain eksperimen within-subject dengan melibatkan 30 partisipan yang menjalani dua skenario ruang kerja secara bergantian, yaitu skenario biophilic dan nonbiophilic. Partisipan diminta mengerjakan Visual Search Task (VST) untuk mengukur kinerja kognitif, mengukur detak jantung dan tekanan darah (TDS dan TDD) untuk respons fisiologis, serta mengisi kuesioner Perceived Restorativeness Scale (PRS) dan Positive and Negative Affect Schedule (PANAS) untuk kesejahteraan psikologis. Terakhir, partisipan mengisi kuesioner Nature Relatedness-6 (NR-6) untuk mengukur tingkat keterhubungan individu dengan alam, yang digunakan untuk menganalisis perannya dalam memoderasi kinerja kognitif, respons fisiologis, dan kesejahteraan psikologis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa desain biophilic tidak secara signifikan meningkatkan kinerja kognitif, meskipun terdapat kecenderungan positif pada
reaction time dan akurasi Visual Search Task. Dari sisi respons fisiologis, desain biophilic secara signifikan menurunkan detak jantung (t(26) = ?2,19; p = 0,04), sedangkan tekanan darah sistolik maupun diastolik lebih stabil namun tidak signifikan. Dari sisi kesejahteraan psikologis, skenario biophilic dinilai lebih restoratif berdasarkan skor PRS (t(26) = 9,22; p < 0,01), serta secara signifikan meningkatkan afek positif (Z = ?2,31; p = 0,02) dan menurunkan afek negatif (Z = ?4,20; p < 0,01) dari sebelum ke sesudah eksperimen. Sebaliknya, ruang nonbiophilic tidak menunjukkan perubahan afek yang signifikan. Perbandingan langsung antar skenario menegaskan bahwa afek positif signifikan lebih tinggi pada ruang biophilic (t = 3,90; p < 0,01).
Hasil penting lainnya, uji korelasi menunjukkan bahwa individu dengan keterhubungan alam (nature relatedness) yang lebih tinggi merasakan manfaat desain biophilic yang lebih besar pada persepsi restoratif (r = 0,40; p = 0,04) dan penurunan afek negatif (r = ?0,41; p = 0,03), namun justru menunjukkan peningkatan detak jantung yang lebih besar (r = 0,43; p = 0,02), berlawanan dengan arah yang diharapkan. Pola ini sejalan dengan effect size interaksi mixed ANOVA yang tergolong moderate (?²?? 0,09) meskipun tidak signifikan. Peran moderasi nature relatedness lebih konsisten terlihat melalui pendekatan korelasi dibandingkan perbandingan antar kelompok, kemungkinan akibat keterbatasan ukuran sampel kelompok NR rendah (n = 4).
Perpustakaan Digital ITB