Kondisi alam yang tidak stabil di Jakarta, terutama di area Teluk Jakarta yang terletak di utara Jakarta, dengan muka laut yang kerap naik sebesar 7,3 mm/tahun dan laju penurunan lahan sebesar 5 – 15 cm/tahun menyebabkan Teluk Jakarta memiliki ancaman terhadap penggenangan. Nantinya, penggenangan ini akan berdampak negatif terhadap aktivitas, fasilitas, serta pembangunan Jakarta Giant Sea Wall (JGSW) di Jakarta Utara. Maka dari itu, dibutuhkan penilaian indeks kerentanan penggenangan agar dapat mengetahui area mana yang memiliki kerentanan tertinggi dan terendah terhadap penggenangan. Variabel fisik dan sosio-ekonomi merupakan dua kelompok variabel yang dapat digunakan untuk menghitung indeks kerentanan terhadap penggenangan. Variabel fisik terdiri dari kenaikan muka air laut, ketinggian, kemiringan pesisir, penurunan lahan, tunggang pasut, dan juga tinggi gelombang. Sedangkan untuk variabel sosial-ekonomi yaitu kepadatan penduduk, penggunaan lahan, serta nilai dan produktivitas dari lahan tersebut. Variabel tersebut kemudian diklasifikasi dari yang paling tidak berbahaya hingga sangat berbahaya, metode pembobotan yang digunakan yaitu Analytic Hierarchy Process (AHP) dan analisis spasial menggunakan Simple Additive Weighting (SAW). Hasil menunjukkan bahwa variabel yang paling memengaruhi penggenangan yaitu kenaikan muka air laut dan laju penurunan lahan. Ternyata, dari pembuatan ke dua peta tersebut, tidak ada area yang tidak rentan terhadap penggenangan. Dari hasil tersebut, pembangunan JGSW dapat menjadi rencana yang bagus dalam menyelamatkan kerugian finansial di Teluk Jakarta yang bisa mencapai Rp 52 triliun serta sekitar 1.367.668 jiwa (200.000 – 300.000 keluarga) dapat terkena dampak dari penggenangan ini.
Perpustakaan Digital ITB