Abstrak_Dienda Nurhaliza Aulia Rahman
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Autism Spectrum Disorder (ASD) merupakan kondisi neurodevelopmental yang memengaruhi kemampuan komunikasi, interaksi sosial, perilaku, dan pemrosesan sensorik. Menurut data dari KemenKes RI, terdapat 2,4 juta penyandang ASD di Indonesia dengan laju pertumbuhan 500 orang per tahun. Seiring meningkatnya jumlah penyandang ASD di Indonesia, kebutuhan terhadap layanan yang komprehensif juga terus bertambah, termasuk di Kabupaten Bandung sebagai salah satu kawasan dengan jumlah penyandang ASD tertinggi di Jawa Barat.
Namun, peningkatan kebutuhan tersebut belum diimbangi dengan tersedianya fasilitas yang mampu mengintegrasikan layanan terapi, pendidikan, dan komunitas dalam satu lingkungan yang sesuai dengan karakteristik sensorik anak. Di sisi lain, rendahnya pemahaman masyarakat masih memunculkan stigma terhadap anak dengan ASD sehingga membatasi partisipasi sosial mereka serta menambah beban psikologis bagi keluarga. Kondisi ini menunjukkan perlunya lingkungan binaan yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat layanan, tetapi juga mampu mendukung proses terapi sekaligus membangun interaksi sosial yang lebih inklusif.
Berdasarkan isu tersebut, Children Autism Center di Kabupaten Bandung hadir sebagai pusat layanan dan komunitas bagi anak dengan ASD melalui pendekatan Sensory Architecture. Topik ini mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-being), SDG 10 (Reduced Inequalities), dan SDG 11 (Sustainable Cities and Communities), yang menekankan pentingnya penyediaan lingkungan binaan yang sehat, inklusif, dan mudah diakses. Perancangan ini menyediakan fasilitas terapi, edukasi, dan membangun interaksi melalui fasilitas community yang diintegrasikan dengan sensory design.
Hasil perancangan menerapkan zonasi berdasarkan tingkat stimulasi sensorik, transition space sebagai ruang adaptasi antarzona, integrasi sensory garden dengan ruang terapi, pemanfaatan elemen alam, penggunaan material yang ramah sensorik, serta sistem sirkulasi yang jelas dan mudah dipahami. Rancangan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang mendukung proses terapi, pembelajaran, dan interaksi sosial secara terpadu sehingga meningkatkan kemandirian, kenyamanan, dan kualitas hidup anak dengan ASD beserta keluarganya, sekaligus menjadi referensi pengembangan fasilitas layanan autisme yang lebih inklusif di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB