digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Adhyra Nasywa Indriaswari R.
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Bandung merupakan salah satu kota dengan populasi terpadat di Indonesia yang sangat bergantung pada sektor formal pemerintah untuk pengelolaan sampahnya. Sektor ini beroperasi dalam sistem ekonomi linier (take-make-dispose) tradisional. Saat ini, Kota Bandung menghasilkan sekitar 430 ton sampah yang membutuhkan sekitar 154 ritase pengangkutan harian untuk dibuang. Namun, TPA Sarimukti sebagai tempat pemrosesan akhir utama yang melayani Kawasan Bandung Raya, hanya memiliki kapasitas sekitar 140 ritase harian, menyisakan 14 hingga 15 ritase sampah yang tidak terbuang setiap harinya. Hal ini memicu permasalahan besar berupa penumpukan limbah perkotaan. Berbagai solusi telah diupayakan oleh pemerintah, termasuk daur ulang limbah mandiri. Namun, kurangnya jangkauan komunitas dan edukasi publik membuat solusi ini kurang efektif. Solusi potensial lainnya, selain perbaikan sistem secara menyeluruh, adalah keterlibatan sektor informal yang didominasi oleh para pemulung. Berbeda dengan sektor formal, sektor informal ini beroperasi berdasarkan sistem ekonomi sirkular. Ekonomi sirkular mendefinisikan ulang konsep 'limbah' dengan memastikan bahwa material tidak pernah benar-benar dibuang dan justru didaur ulang kembali ke dalam rantai pasok menjadi material baru, menciptakan sistem rantai pasok tertutup (closed-loop system). Pemulung merupakan tulang punggung utama dari sistem ini. Namun, dalam posisinya di pengelolaan limbah skala makro ini, mereka mengalami kerentanan sosial-ekonomi dan konflik spasial antara kehidupan bertempat tinggal dan bekerja mereka. Hal ini tidak hanya memicu gesekan antar-kebutuhan individu, tetapi juga mengoyak tatanan sosial (social fabric) pemulung itu sendiri. Sebuah intervensi arsitektural diajukan untuk memecahkan permasalahan ini dengan mewadahi kebutuhan kerja sekaligus hunian para pemulung, sembari mendorong pemberdayaan sosial maupun finansial dari sektor informal tersebut. Rancangan ini melibatkan pusat pengolahan limbah yang didesain secara spesifik untuk alur kerja pemulung dalam memilah dan mengelola sampah. Unit-unit hunian juga dirancang untuk mewadahi kehidupan pribadi dan tempat tinggal para penghuni secara layak, sekaligus mendorong interaksi warga melalui ruang-ruang komunal. Arsitektur ini juga mengintegrasikan pemulung ke dalam tatanan perkotaan (urban fabric) dengan menciptakan ruang-ruang publik yang memperlihatkan realitas pengolahan limbah tersebut. Konsep desain yang diajukan meliputi transition from contamination, empowerment from stagnation, community & flexibility. Persyaratan desain kemudian dirumuskan untuk memenuhi konsep-konsep tersebut, contohnya melalui penerapan zonasi vertikal, pemeliharaan filter higienis (hygienic filters), dan penciptaan lanskap yang produktif serta fleksibel. Solusi arsitektural ini secara langsung menjawab SDG 10 (Reduce Inequalities / Mengurangi Ketimpangan) dan SDG 1 (No Poverty / Tanpa Kemiskinan).