digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 1 Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 2 Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 3 Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 4 Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

BAB 5 Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

PUSTAKA Elizabeth Martaulina Pasaribu
EMBARGO  2029-07-22 

Air asam tambang (AAT) dapat menghasilkan sedimen tersuspensi yang mengandung Fe, Si, Mg, dan Al serta berpotensi menurunkan kualitas air. Partikel halus dalam suspensi dapat menghambat pengendapan alami sehingga diperlukan metode yang mampu mempercepat pemisahannya. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah bioflokulasi, yaitu pembentukan flok melalui interaksi antara bakteri, senyawa ekstraseluler, dan permukaan partikel tersuspensi. Penambahan material berbasis Fe hasil sintesis hijau juga berpotensi mendukung pembentukan flok. Penelitian ini bertujuan menentukan media pertumbuhan, isolat bakteri, umur kultur, kondisi operasi, dan konsentrasi material berbasis Fe yang menghasilkan kinerja bioflokulasi terbaik pada suspensi sedimen AAT. Penelitian diawali dengan seleksi lima isolat bakteri pada media SKC Broth Modified 1 dan SKC Broth Modified 2 berdasarkan indeks emulsifikasi setelah 24 jam (EI-24), optical density (OD), dan pH untuk menentukan media, isolat, serta umur kultur terbaik. Isolat terpilih selanjutnya digunakan untuk menentukan kondisi bioflokulasi melalui variasi pH awal dan waktu pengadukan, sedangkan konsentrasi optimum material berbasis Fe ditentukan melalui variasi konsentrasi. Percobaan inti dilakukan menggunakan suspensi sedimen AAT 10.000 ppm pada volume kerja 1 L dengan rasio suspensi dan kultur bakteri sebesar 9:1, kemudian diaduk pada kondisi terpilih dan didiamkan selama 60 menit. Kinerja bioflokulasi dievaluasi berdasarkan penurunan total padatan tersuspensi (Total Suspended Solids/TSS) yang ditentukan dari nilai OD. Sedimen awal dan residu akhir dikarakterisasi menggunakan XRD, XRF, SEM-EDS, dan FTIR, sedangkan material berbasis Fe juga dikarakterisasi menggunakan PSA dan AAS. Karakterisasi tersebut digunakan sebagai data pendukung untuk menginterpretasikan sifat material dan perubahan setelah perlakuan, sedangkan penurunan TSS digunakan sebagai indikator utama keberhasilan bioflokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa SKC Broth Modified 2 merupakan media terbaik untuk seleksi isolat. Bacillus tequilensis SKC-10 dan Paenibacillus pasadenensis SKC/S-3 terpilih sebagai isolat terbaik dengan nilai EI-24 masing-masing sebesar 29,65% dan 29,30% pada umur kultur tiga hari. Sedimen awal didominasi oleh Fe?O?, SiO?, MgO, dan Al?O?. Kondisi bioflokulasi terbaik diperoleh pada pH awal 3 dan waktu pengadukan 3 menit. Pada kondisi tersebut, B. tequilensis SKC-10 dan P. pasadenensis SKC/S-3 menghasilkan penurunan TSS masing-masing sebesar 96,16% dan 93,36%, lebih tinggi dibandingkan kontrol sebesar 47,32%. Kombinasi B. tequilensis SKC-10–material berbasis Fe dan P. pasadenensis SKC/S-3–material berbasis Fe pada konsentrasi optimum 4,25 ppm menghasilkan penurunan TSS masing-masing sebesar 95,32% dan 96,94%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kedua isolat berpotensi mempercepat pengendapan sedimen AAT, sedangkan penambahan material berbasis Fe terutama meningkatkan kinerja P. pasadenensis SKC/S-3.