digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Studi ini mengembangkan model prioritas dan multipakar untuk manajemen keru-sakan jalan nasional di Kota Bandung, Jawa Barat, Indonesia, dengan menerapkan Analytical Hierarchy Process (AHP) dan agregasi rata-rata geometris. Infra-struktur jalan dalam konteks urbanisasi yang pesat menghadapi peningkatan per-mintaan yang kontras dengan anggaran pemeliharaan yang terbatas, sehingga me-merlukan kerangka kerja pengambilan keputusan multi-kriteria yang terstruktur. Tujuh pakar bidang terkait, termasuk insinyur otoritas jalan pemerintah, akade-misi, ilmuwan peneliti, dan konsultan praktisi, menyelesaikan kuesioner per-bandingan berpasangan terstruktur. Matriks individu digabungkan menggunakan metode rata-rata geometris untuk menghasilkan matriks komposit. Matriks gabun-gan tersebut mencapai Rasio Konsistensi (CR) sebesar 0,025, peningkatan 73% dibandingkan CR pakar tunggal sebesar 0,091, yang menegaskan bahwa penilaian kelompok menghasilkan struktur bobot yang lebih koheren daripada penilaian in-dividu. Studi ini juga mengusulkan dan memvalidasi kriteria Risiko Keselamatan komposit, yang dioperasionalkan sebagai komposit aditif berbobot eksposur dari AADT dan IRI yang dinormalisasi untuk mengatasi kurangnya catatan kecelakaan pada tingkat segmen. Bobot agregat multipakar adalah: Risiko Keselamatan (0,467), Kondisi Fisik Jalan/IRI (0,234), Volume Lalu Lintas/AADT (0,187), Biaya Rehabilitasi (0,068), dan Fungsi Jalan (0,044). Diterapkan pada 36 segmen jalan nasional melalui pem-bobotan linier normalisasi min-max, model ini menghasilkan peringkat prioritas global yang lengkap. Tiga segmen Kritis: Jln. Gede Bage (0,947), Jln. Cibiru (0,900), dan Jln. Raya Cileunyi (0,866) memerlukan rehabilitasi segera. Analisis sensitivitas pada lima skenario bobot menegaskan bahwa penetapan Kritis pada tiga segmen teratas tetap kuat terhadap variasi bobot kriteria. Temuan utama menunjukkan bahwa Bts. Cileunyi-Nagreg I, meskipun memiliki IRI tertinggi di jaringan (8,0 m/km), berada di peringkat keenam karena AADT minimumnya sebe-sar 33.506 kendaraan per hari, yang menunjukkan bahwa prioritas multikriteria berbasis risiko menghasilkan peringkat yang lebih dapat dipertanggungjawabkan dibandingkan dengan pendekatan indikator tunggal. Model ini menyediakan kerangka kerja yang divalidasi secara ilmiah dan dapat direproduksi untuk men-galokasikan anggaran pemeliharaan jaringan jalan nasional di Kota Bandung.