Penyimpanan air tanah memainkan peran krusial sebagai sumber air alternatif untuk memenuhi
kebutuhan berbagai keperluan seperti domestik, pertanian, dan industri. Air tanah di Pulau
Sulawesi merupakan komponen vital dalam ketahanan sumber daya air di wilayah kepulauan
tropis. Pulau Sulawesi Sendiri mengalami pertumbuhan penduduk dan perkembangan di semua
sektor, yang menyebabkan peningkatan permintaan air di pulau tersebut. Ancaman volatilitas
iklim ekstrem menjadi kekhawatiran yang semakin nyata dimana keterbatasan jaringan
pemantauan in-situ di wilayah dengan kompleksitas geologi seperti Sulawesi menghambat
deteksi dini terhadap respons akuifer terhadap perubahan iklim tersebut, sehingga variabilitas
dan juga sebaran geografis dari kondisi simpanan air tanah di Pulau Sulawesi belum
tercerminkan dengan jelas. Studi ini bertujuan untuk mengamati dinamika spasial dan temporal
penyimpanan air tanah di Pulau Sulawesi menggunakan data dari satelit Gravity Recovery and
Climate Experiment (GRACE) dan GRACE-Follow On (GRACE-FO) unutk melihat
bagaimana variabilitas spasial dan temporal yang terjadi di Pulau utama Sulawesi. Nilai
perubahan penyimpanan air tanah GWS yang mencerminkan total penyimpanan air diisolasi
dengan mengurangkan komponen kelembaban tanah (SMS) dan penyimpanan air kanopi
(CWS) yang diperoleh dari model Global Land Data Assimilation System (GLDAS) terhadap
total penyimpanan air terestrial (TWS) hasil observasi GRACE. Analisis statistik lebih lanjut
menggunakan Uji Mann-Kendall dan Korelasi Spearman dilakukan untuk mengevaluasi tren,
signifikansi, dan hubungan ketergantungan antara dinamika air tanah dengan variabel
presipitasi serta indeks iklim global. Analisis PC dan juga EOF diterapkan guna melihat
bagaimana pola dominan terjadi pada simpanan air tanah di Pulau Sulawesi. Hasil analisis deret
waktu menunjukkan bahwa penyimpanan air tanah di Sulawesi mengalami fluktuasi yang
signifikan akibat transisi fase hujan dan fase iklim. Secara keseluruhan peningkatan air tanah
di Sulawesi mengalami peningkatan sebesar 0.2164 mm/tahun pada sebaran seluruh pulau
dengan rataan sejak 2002 hingga 2024. Fenomena surplus ini berjalan selaras dengan intensitas
curah hujan tahunan yang juga mencatatkan laju peningkatan sebesar 3.34 mm/tahun di Pulau
Sulawesi secara menyeluruh selama 22 tahun juga. Secara spasial, teridentifikasi perbedaan
respon antara wilayah selatan (Region A/Monsunal) yang memiliki fluktuasi musiman, dengan
wilayah utara (Region C/Anti-Monsunal) yang relatif lebih stabil, mencerminkan dinamika
ketersediaan air secara geografis di Pulau Sulawesi sangat dipengaruhi oleh pola hujan tersebut.
Analisis hubungan hidroklimatologi mengungkapkan korelasi positif yang kuat antara curah
hujan dan simpanan air tanah, dengan jeda waktu respons akuifer. Studi ini membuktikan
adanya hubungan korelasi atmosfer yang kuat, di mana fase La Niña dan IOD Negatif seperti
pada 2011, 2012, 2017, 2022-2023 menjadi pemicu utama lonjakan cadangan air tanah.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran besar mengenai ketahanan air di masa depan.
Meskipun saat ini terjadi tren surplus, dominasi kontrol iklim menyiratkan bahwa ketersediaan
air tanah di Sulawesi sangat rentan terhadap pengaruh siklus iklim. Dalam skenario perubahan
iklim global yang memprediksi peningkatan frekuensi dan intensitas El Niño di masa depan,
sehingga kondisi dari fenomena iklim kedepannya perlu diperhatikan korelasinya dengan
simpanan air tanah. Distribusi nilai loadings dari EOF ini secara tegas menunjukkan polarisasi
dua wilayah yang selaras dengan pembagian pola hujan antara region monsunal dan antimonsunal yang mengonfirmasi bahwa variabilitas air tanah sangat dipengaruhi kondisi hujan
setempat. Mode EOF utama dan PC-1 lebih lanjut mengungkapkan pola spasial yang sejalan
dengan wilayah variabilitas air tanah di Pulau Suawesi, menunjukkan jejak yang kuat dari
regim curah hujan dominan dan mode iklim IOD pada penyimpanan air tanah, dimana
sebarannya sangat dipengaruhi dan sejalan dengan pola region curah hujan bagian utara dan
selatan. Loadings dari EOF mennjukan dua pola dua region yang selaras dengan pembagian
pola hujan di Pulau Sulawesi. Fluktuasi dari PC-1 membrikan informasi yang juga sejalan
dengan waktu pada periode pembagian pola hujan di wilatyah utara maupun wilayah selatan.
Perpustakaan Digital ITB