Peningkatan kebutuhan energi yang terus meningkat dari sektor industri maupun
sektor domestik, telah mendorong penelitian terkait sumber energi alternatif yang
bisa digunakan menjadi energi terbarukan dan lebih ramah lingkungan. Bioetanol
dapat menjadi salah satu sumber energi terbarukan yang dihasilkan dari
pengolahan limbah cair pabrik kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
Salah satu usaha dalam optimalisasi pembentukan bioetanol adalah dengan
penambahan mikronutrien sebagai kofaktor enzim untuk meningkatkan efisiensi
pengolahan limbah secara anaerob. Penelitian dilakukan dalam rangka melakukan
analisis pengaruh penambahan mikronutrien terhadap penyisihan senyawa organik
(Chemical Oxygen Demand), pembentukan Total Asam Volatil (TAV), dan
produksi bioetanol dari limbah POME. Penelitian ini juga bertujuan untuk
mengidentifikasi korelasi antara variabel tersebut berdasarkan penelitian yang
telah dilakukan dalam sepuluh tahun terakhir sehingga dapat menjadi rekomendasi
berdasarkan hasil meta-analisis yang dilakukan. Metodologi yang digunakan pada
penelitian ini adalah pendekatan Systematic Literature Review (SLR) yang
dilanjutkan dengan analisis meta-analisis korelasional. Data diperoleh dari
literatur yang relevan dan telah memenuhi kriteria inklusi, seperti kesamaan
substrat, metode anaerobik, serta tersedianya data kuantitatif mengenai
mikronutrien dan hasil fermentasi etanol. Dalam proses analisis, data yang
diperoleh diekstraksi untuk kemudian dihitung persentase pengurangan COD,
pembentukan TAV, dan produksi bioetanol. Selanjutnya, dilakukan uji korelasi
dan perhitungan effect size yang ditransformasikan menggunakan metode Fisher’s
z untuk mengevaluasi hubungan antar variabel. Hasil meta-analisis menunjukkan
bahwa tidak terdapat korelasi yang signifikan antara penambahan mikronutrien
terhadap pembentukan etanol. Nilai summary effect yang didapatkan pada meta
analisis adalah sebesar 0,1 dan model effect size adalah fixed effect model. Hasil
meta-analisis tersebut dilakukan uji verifikasi di laboratorium dengan dosis
optimum pembentukan etanol. Pada pengujian laboratorium terdapat dua variasi
yakni kombinasi Fe2+ dengan Zn2+ dan kombinasi antara Cu2+, Mn2+, dan Mg2+
.
Hasil uji laboratorium menunjukkan bahwa kombinasi Fe2+ dengan Zn2+
meningkatkan nilai etanol sebesar 94% pada jam ke-72 dengan konsentrasi etanol
sebesar 180,96 mg/L. Sedangkan kombinasi antara Cu2+, Mn2+, dan Mg2+
memberikan peningkatan pembentukan etanol sebesar 96% pada jam ke-72 yakni
sebesar 120,81. Sedangkan pada reaktor kontrol hanya memberikan peningkatan
sebesar 39%.
Perpustakaan Digital ITB