Penelitian ini membahas cara mengolah informasi yang sulit menjadi animasi gerak
di kanal YouTube "Kok Bisa?". Sebagai kanal edukasi yang populer, "Kok Bisa?"
menggunakan gaya motion graphics untuk menyederhanakan topik sains dan sosial
bagi penonton muda. Fokus utama riset ini adalah melihat bagaimana gabungan
antara cerita (narasi), prinsip animasi, dan cara bercerita secara visual (visual
storytelling) bisa saling bekerja sama supaya penonton lebih mudah paham.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teori estetika media
dari Herbert Zettl, yang membedah elemen dari sisi penglihatan (sight), suara
(sound), dan gerak (motion). Data dikumpulkan melalui studi pustaka, observasi 12
video dari tahun 2015 sampai 2026, serta wawancara langsung dengan tim penulis
dan animator "Kok Bisa?". Selain itu, 7 orang penonton usia 17–25 tahun juga
diwawancarai untuk melihat pendapat mereka terhadap perubahan visual animasi
tersebut. Dalam hasil wawancara ditemukan bahwa penggunaan prinsip animasi
seperti timing, slow in slow out, dan staging sangat membantu memperjelas maksud
cerita. Temuan penting lainnya adalah peran karakter "Kobi" dan visual yang lebih
ekspresif pada video tahun 2026 terbukti membuat penonton lebih tertarik secara
emosional dibandingkan video tahun 2016 yang masih kaku. Gabungan antara
narasi yang santai dan gerakan visual yang dinamis inilah yang berhasil mengubah
konsep rumit menjadi tontonan yang mudah dimengerti.
Perpustakaan Digital ITB