Penelitian ini bertujuan untuk memetakan pola variabilitas spasial dan temporal
simpanan air tanah di Pulau Papua selama periode 2002 hingga 2024 serta
menganalisis pengaruh faktor iklim yang meliputi curah hujan, El Niño Southern
Oscillation, dan Indian Ocean Dipole serta perubahan tutupan lahan terhadap
dinamika simpanan air tanah. Pulau Papua merupakan wilayah beriklim tropis
lembap dengan kompleksitas fisiografi serta variabilitas hidrologi yang tinggi.
Meskipun memiliki potensi sumber daya air yang besar, informasi kuantitatif dan
berkelanjutan mengenai dinamika simpanan air tanah di wilayah ini masih terbatas
sehingga menimbulkan kesenjangan pengetahuan dalam kajian hidrologi regional.
Penelitian ini memanfaatkan data citra satelit Gravity Recovery and Climate
Experiment dan Gravity Recovery and Climate Experiment Follow On untuk
mengestimasi perubahan simpanan air total daratan. Data Global Land Data
Assimilation System Noah Land Surface Model digunakan untuk mengestimasi
komponen hidrologi permukaan berupa kelembapan tanah dan canopy water
storage yang selanjutnya dikurangkan dari simpanan air total guna memperoleh
estimasi simpanan air tanah. Analisis temporal dilakukan menggunakan uji tren
Mann Kendall untuk mengidentifikasi kecenderungan jangka panjang. Analisis
spasial dilakukan menggunakan metode Empirical Orthogonal Function untuk
mengekstraksi pola dominan variabilitas simpanan air tanah. Hubungan antara
simpanan air tanah dengan faktor iklim serta perubahan tutupan lahan dianalisis
menggunakan korelasi Spearman rho.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa selama periode 2002 hingga 2024 simpanan
air tanah di Pulau Papua secara umum mengalami tren peningkatan yang signifikan
sebesar sekitar 0,32 mm per bulan, meskipun disertai fluktuasi antarwaktu yang
cukup kuat. Fluktuasi paling menonjol terjadi pada periode 2013 hingga 2016 yang
berkaitan erat dengan kejadian El Niño kuat pada tahun 2015 hingga 2016. Pada
periode tersebut wilayah Papua mengalami penurunan simpanan air tanah yang
signifikan dengan laju rata rata sebesar -0,59 mm per bulan yang sejalan dengan
kondisi defisit curah hujan.
Secara spasial variabilitas simpanan air tanah menunjukkan heterogenitas yang
jelas. Wilayah utara dan barat Pulau Papua cenderung memperlihatkan peningkatan simpanan air tanah yang lebih stabil, sedangkan wilayah selatan khususnya
Merauke menunjukkan penurunan yang konsisten. Pola musiman simpanan air
tanah mengikuti karakteristik monsunal, dengan kondisi surplus pada akhir musim
hujan dan defisit pada puncak musim kemarau, yang mencerminkan peran dominan
curah hujan terhadap proses pengisian ulang akuifer. Analisis korelasi menunjukkan
hubungan negatif yang signifikan antara curah hujan dan komponen utama pertama
simpanan air tanah di Papua Selatan, yang mengindikasikan bahwa penurunan
curah hujan diikuti oleh penurunan simpanan air tanah. Sebaliknya wilayah barat
dan utara menunjukkan kecenderungan peningkatan simpanan air tanah meskipun
curah hujan relatif rendah, yang mengindikasikan adanya efek hydraulic memory
pada sistem akuifer. ENSO berpengaruh signifikan terhadap dinamika simpanan air
tanah terutama di wilayah selatan, sedangkan pengaruh IOD relatif lebih lemah
namun tetap berkontribusi terhadap variabilitas regional. Perubahan tutupan lahan
juga berperan penting, di mana penurunan tutupan hutan di Papua Utara berkaitan
dengan peningkatan simpanan air tanah, sementara intensifikasi pertanian di Papua
Selatan berkontribusi terhadap penurunan simpanan air tanah akibat degradasi sifat
hidraulik tanah. Hasil penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi informasi
iklim dan perubahan tutupan lahan dalam mendukung pengelolaan sumber daya air
tanah yang adaptif dan berkelanjutan di Pulau Papua.
Perpustakaan Digital ITB