Sektor limbah domestik berkontribusi signifikan terhadap emisi gas rumah kaca (GRK), terutama metana (CH?) dari sistem pengolahan air limbah setempat (SPALD?S) seperti tangki septik yang mendominasi di kawasan perkotaan negara berkembang termasuk Indonesia (41,03–73,37% rumah tangga di Bandung Raya masih bergantung pada tangki septik). Penelitian ini mengkuantifikasi emisi CH? dari enam tangki septik rumah tangga di wilayah Bandung Raya melalui pengukuran langsung menggunakan flux chamber dan perbandingan dengan estimasi teoritis mengikuti IPCC 2019 Refinement, sekaligus menilai pengaruh faktor lingkungan, karakteristik lumpur, dan kualitas efluen. Laju emisi terukur berada pada kisaran 0,12–7,17 g CH?/kapita/hari dengan variasi antar tangki yang kuat; tren menunjukkan nilai lebih tinggi pada musim kemarau, namun uji Wilcoxon tidak menemukan perbedaan musiman yang signifikan (p>0,05), menandakan dominasi karakter internal tangki. Korelasi Spearman menunjukkan COD berhubungan positif sedang dengan CH? (r?0,51), sedangkan volume air dan volume lumpur berhubungan negatif lebih kuat (r??0,66 hingga ?0,77), mengindikasikan bahwa lumpur yang menempati porsi besar volume efektif memperpendek jalur difusi dan meningkatkan emisi. Rasio CH?/CO? serta indikator TA/VFA membedakan tangki dengan lumpur matang (misalnya ST4; TA/VFA 10,3; ORP ? ?400 s.d. ?550 mV) yang bersifat sangat metanogenik dari tangki dengan lumpur masih aktif/asam (misalnya ST3; TA/VFA 0,3; VS dasar 17.720 mg/L) yang justru menahan metana dalam bentuk bahan organik belum terdegradasi.
Perbandingan dengan pendekatan IPCC 2019 menunjukkan adanya gap sistematik, di mana emisi hasil flux chamber secara konsisten lebih rendah daripada estimasi berbasis faktor emisi default; perhitungan IPCC menghasilkan 25–193 kg CH?/tahun per tangki, dengan tambahan 1,4–6,6 kg CH?/tahun dari jalur efluen ke badan air. Hal ini menegaskan bahwa faktor emisi default merepresentasikan potensi maksimum pada tangki septik ideal, sedangkan kondisi nyata sangat dipengaruhi stabilitas proses dan desain tangki sehingga hanya sebagian metana yang benar?benar lolos ke atmosfer. Untuk menilai implikasi mitigasi, disusun dua skenario neraca massa: kondisi eksisting dengan interval penyedotan panjang menghasilkan total emisi sekitar 13,29 kg CH?/kapita/tahun (0,64 kg CH?/kapita/tahun melalui efluen dan 12,65 kg CH?/kapita/tahun dari lumpur dan gas yang tertahan dalam tangki), sedangkan skenario peningkatan layanan lumpur tinja terjadwal (LLTT) dengan pengalihan ±30% beban organik ke IPLT menurunkan emisi menjadi 5,61 kg CH?/kapita/tahun (~50% reduksi) sekaligus mengurangi beban pencemar efluen dan memindahkan proses degradasi ke sistem terkontrol dengan potensi pemanfaatan energi. Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa kombinasi inventaris berbasis model IPCC dengan data lapangan kualitas air/lumpur diperlukan untuk menangkap nasib metana yang tersembunyi dalam efluen dan lumpur, serta menegaskan LLTT dan penguatan IPLT sebagai intervensi prioritas bagi kota berpenduduk padat yang bergantung pada SPALD?S dalam kerangka sanitasi aman dan mitigasi iklim lokal.
Perpustakaan Digital ITB