digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Kemala Asadilah Nindya Praja
PUBLIC Open In Flipbook Alifah Yusriyah Salsabila

Praktik pertanian konvensional yang dilakukan secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas tanah, baik dari aspek fisik, kimia, maupun biologi. Penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang dapat mengurangi kandungan bahan organik tanah dan memengaruhi kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh mikroorganisme tanah. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung perbaikan kualitas tanah adalah memanfaatkan limbah baglog jamur tiram sebagai mulsa organik. Limbah baglog masih mengandung bahan organik yang dapat membantu menjaga kondisi tanah sekaligus mendukung aktivitas mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi parameter edafik tanah setelah aplikasi mulsa organik limbah baglog jamur tiram, menganalisis kelimpahan bakteri tanah total, bakteri penambat nitrogen, dan bakteri pelarut fosfat, serta menganalisis korelasi antara parameter edafik, kelimpahan mikroorganisme tanah, dan pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa var. crispa). Penelitian menggunakan dua perlakuan, yaitu budidaya selada dengan aplikasi mulsa limbah baglog jamur tiram dan tanpa mulsa sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan selama enam minggu pada empat bedengan untuk setiap perlakuan dengan jarak tanam 25 cm × 25 cm. Sampel tanah diambil secara komposit dari lima titik pada setiap bedengan. Parameter yang diamati meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah, kelimpahan bakteri tanah total, bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, serta parameter pertumbuhan tanaman. Kelimpahan bakteri dianalisis menggunakan metode Total Plate Count (TPC) pada media Nutrient Agar, media Ashby, dan media Pikovskaya. Data kelimpahan bakteri ditransformasi ke dalam bentuk Log10, kemudian dianalisis secara deskriptif. Hubungan antara parameter edafik, kelimpahan mikroorganisme tanah, dan pertumbuhan tanaman dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah baglog jamur tiram memiliki kandungan C-organik sebesar 48,95%, nitrogen total sebesar 0,52%, kadar air sebesar 47,69%, dan rasio C/N sebesar 94,13. Aplikasi mulsa limbah baglog membantu mempertahankan suhu tanah pada kisaran 23,23–27,00°C, kelembaban tanah pada kisaran 74,25–80,75%, dan pH tanah pada kisaran 6,13–6,88. Kelimpahan bakteri tanah total pada perlakuan mulsa berada pada kisaran 6,90–8,00 Log10 CFU g?¹, bakteri penambat nitrogen pada kisaran 6,57–7,40 Log10 CFU g?¹, dan bakteri pelarut fosfat pada kisaran 7,03–7,56 Log10 CFU g?¹. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa hubungan antara parameter edafik, kelimpahan mikroorganisme tanah, dan pertumbuhan selada umumnya berada pada kategori sangat lemah hingga lemah. Kelembaban tanah menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan positif dengan sebagian besar parameter pertumbuhan tanaman, sedangkan suhu tanah, pH tanah, dan bakteri penambat nitrogen menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan negatif. Bakteri tanah total dan bakteri pelarut fosfat menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan positif terhadap beberapa parameter pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil penelitian, penggunaan mulsa organik limbah baglog jamur tiram dapat membantu mempertahankan kondisi edafik tanah dan mendukung aktivitas mikroorganisme selama budidaya selada. Pertumbuhan tanaman tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi merupakan hasil interaksi antara kondisi edafik tanah, kelimpahan mikroorganisme, ketersediaan unsur hara, dan proses fisiologis tanaman.