Praktik pertanian konvensional yang dilakukan secara terus-menerus dapat menurunkan
kualitas tanah, baik dari aspek fisik, kimia, maupun biologi. Penggunaan pupuk kimia
dalam jangka panjang dapat mengurangi kandungan bahan organik tanah dan
memengaruhi kondisi lingkungan yang dibutuhkan oleh mikroorganisme tanah. Salah
satu upaya yang dapat dilakukan untuk mendukung perbaikan kualitas tanah adalah
memanfaatkan limbah baglog jamur tiram sebagai mulsa organik. Limbah baglog masih
mengandung bahan organik yang dapat membantu menjaga kondisi tanah sekaligus
mendukung aktivitas mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
kondisi parameter edafik tanah setelah aplikasi mulsa organik limbah baglog jamur
tiram, menganalisis kelimpahan bakteri tanah total, bakteri penambat nitrogen, dan
bakteri pelarut fosfat, serta menganalisis korelasi antara parameter edafik, kelimpahan
mikroorganisme tanah, dan pertumbuhan tanaman selada (Lactuca sativa var. crispa).
Penelitian menggunakan dua perlakuan, yaitu budidaya selada dengan aplikasi mulsa
limbah baglog jamur tiram dan tanpa mulsa sebagai kontrol. Pengamatan dilakukan
selama enam minggu pada empat bedengan untuk setiap perlakuan dengan jarak tanam
25 cm × 25 cm. Sampel tanah diambil secara komposit dari lima titik pada setiap
bedengan. Parameter yang diamati meliputi suhu tanah, kelembaban tanah, pH tanah,
kelimpahan bakteri tanah total, bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, serta
parameter pertumbuhan tanaman. Kelimpahan bakteri dianalisis menggunakan metode
Total Plate Count (TPC) pada media Nutrient Agar, media Ashby, dan media
Pikovskaya. Data kelimpahan bakteri ditransformasi ke dalam bentuk Log10, kemudian
dianalisis secara deskriptif. Hubungan antara parameter edafik, kelimpahan
mikroorganisme tanah, dan pertumbuhan tanaman dianalisis menggunakan uji korelasi
Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa limbah baglog jamur tiram memiliki
kandungan C-organik sebesar 48,95%, nitrogen total sebesar 0,52%, kadar air sebesar
47,69%, dan rasio C/N sebesar 94,13. Aplikasi mulsa limbah baglog membantu
mempertahankan suhu tanah pada kisaran 23,23–27,00°C, kelembaban tanah pada
kisaran 74,25–80,75%, dan pH tanah pada kisaran 6,13–6,88. Kelimpahan bakteri tanah
total pada perlakuan mulsa berada pada kisaran 6,90–8,00 Log10 CFU g?¹, bakteri
penambat nitrogen pada kisaran 6,57–7,40 Log10 CFU g?¹, dan bakteri pelarut fosfat
pada kisaran 7,03–7,56 Log10 CFU g?¹. Hasil analisis korelasi menunjukkan bahwa
hubungan antara parameter edafik, kelimpahan mikroorganisme tanah, dan pertumbuhan
selada umumnya berada pada kategori sangat lemah hingga lemah. Kelembaban tanah
menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan positif dengan sebagian besar
parameter pertumbuhan tanaman, sedangkan suhu tanah, pH tanah, dan bakteri
penambat nitrogen menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan negatif. Bakteri
tanah total dan bakteri pelarut fosfat menunjukkan kecenderungan memiliki hubungan
positif terhadap beberapa parameter pertumbuhan tanaman. Berdasarkan hasil
penelitian, penggunaan mulsa organik limbah baglog jamur tiram dapat membantu
mempertahankan kondisi edafik tanah dan mendukung aktivitas mikroorganisme selama
budidaya selada. Pertumbuhan tanaman tidak dipengaruhi oleh satu faktor saja, tetapi
merupakan hasil interaksi antara kondisi edafik tanah, kelimpahan mikroorganisme,
ketersediaan unsur hara, dan proses fisiologis tanaman.
Perpustakaan Digital ITB