Kegagalan jembatan sungai di Indonesia sering kali tidak disebabkan oleh bencana yang melampaui kapasitas desain, melainkan oleh proses desain yang belum berorientasi pada ketangguhan (robustness) terhadap risiko multi-bencana, terutama pada jembatan bentang pendek di tingkat kabupaten yang datanya terbatas dan sulit dievaluasi dengan pendekatan kuantitatif berbasis kurva fragility yang selama ini dominan. Penelitian ini bertujuan mengembangkan kerangka indikator proses desain berorientasi robustness, mengevaluasi kualitas proses desain pada dua kasus jembatan, serta mengidentifikasi faktor penyebab kesenjangan antara proses desain ideal dan praktik nyata. Menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif (Yin, 2018) pada Jembatan Sibaganding dan Jembatan Bah Bolon di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, penelitian ini menghasilkan kerangka berisi sepuluh indikator pada tiga fase desain yang telah divalidasi oleh ahli struktur jembatan. Hasil evaluasi menunjukkan tidak ada indikator yang mencapai level tertinggi pada kedua jembatan, dengan kesenjangan yang teridentifikasi disebabkan oleh empat faktor sistemik: pagu anggaran yang mendahului investigasi teknis, review yang berorientasi kelengkapan dokumen, ketiadaan umpan balik jangka panjang, dan desain berbasis template sebagai respons rasional. Temuan ini menunjukkan bahwa kesenjangan tersebut bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan teknis, melainkan oleh kondisi sistem yang tidak memberi ruang penerapannya, sehingga kerangka ini berpotensi menjadi alat evaluasi mandiri bagi konsultan dan instansi pengelola jembatan kabupaten.
Perpustakaan Digital ITB