Beras merupakan komoditas pangan strategis yang memiliki dimensi sosiokultural
dan ekonomi yang kaya di Pulau Jawa. Sebagai makanan pokok universal,
produsen memanfaatkan desain kemasan sebagai medan diferensiasi utama,
sehingga memunculkan keragaman estetika visual. Penelitian kualitatif deskriptif
ini bertujuan untuk mengidentifikasi elemen visual dominan, mendeskripsikan
adaptasi simbol budaya, dan menganalisis tujuan komunikasi visual di balik
pemilihan pola gaya grafis kemasan beras. Objek penelitian difokuskan pada
kemasan plastik 5 kg dan karung 25 kg di pasar tradisional serta supermarket
modern kawasan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur pada tahun 2026.
Penelitian ini dibatasi pada aspek visual-formal kemasan, kajian dilakukan
melalui tiga lensa pembacaan yang saling melengkapi, analisis ikonografi, analisis
material dan teknik cetak, serta analisis gaya visual yang diukur menggunakan
instrumen kuantitatif tujuh parameter. Hasil penelitian menghasilkan model
taksonomi visual yang mengklasifikasikan desain kemasan beras di Pulau Jawa ke
dalam tiga pola gaya makro, yaitu Gaya Tradisional, Gaya Hibrida, dan Gaya
Modern, yang diperinci lebih lanjut ke dalam tujuh sub-gaya yang bersifat
operasional. Temuan ini menegaskan bahwa kemasan diposisikan bukan sekadar
wadah fungsional, melainkan media budaya yang merekam pertemuan antara nilai
agraris, dinamika akulturasi, dan tuntutan pasar modern. Pemilihan gaya grafis
merupakan wujud strategi komunikasi merek yang secara sadar memanfaatkan
kode-kode kultural untuk membangun kepercayaan konsumen dan memperkuat
positioning di pasar sasaran.
Perpustakaan Digital ITB