Pengembangan kawasan industri berbasis Aerocity merupakan strategi penting
untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional, khususnya melalui integrasi
dengan bandara sebagai simpul logistik utama. Kawasan Industri Kertajati Aerocity
memiliki potensi strategis dalam mendukung konsep Aerocity, namun
implementasinya menghadapi berbagai hambatan. Meskipun memiliki perencanaan
yang baik dan dukungan infrastruktur strategis, perkembangan kawasan industri
Kertajati Aerocity belum menunjukkan capaian yang sepenuhnya sesuai dengan
target perencanaan. Beberapa infrastruktur dasar kawasan masih dalam tahap
percepatan pembangunan, sementara realisasi investasi dan aktivitas ekonomi yang
diharapkan tumbuh di sekitar bandara belum berkembang secara optimal. Penelitian
ini bertujuan untuk menstrukturkan persoalan apa saja yang menghambat
pengembangan Kawasan Industri Kertajati Aerocity dalam konteks pengembangan
Aerocity di Kabupaten Majalengka, serta memberikan rekomendasi strategis untuk
mengurangi hambatan tersebut guna mempercepat optimalisasi fungsi Kertajati
Aerocity sebagai bagian integral dari Aerocity
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis
problem structuring yang merupakan kelompok metode analisis yang
dikembangkan untuk menangani persoalan yang bersifat kompleks (messy
problems), yaitu permasalahan yang memiliki banyak aktor, tujuan yang berbeda,
ketidakpastian tinggi, serta tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan
optimasi matematis. Metode pengumpulan data kuantitatif pada penelitian ini
diperoleh melalui dokumen perencanaan kawasan dan data sekunder terkait
infrastruktur, jenis industri, tata ruang, regulasi serta tahapan pengembangan. Data
kualitatif dikumpulkan melalui in-depth interview dengan stakeholder strategis,
termasuk pejabat Badan Pengelola Kawasan Rebana, pengelola Kertajati Aerocity
serta pejabat BIJB Kertajati. Analisis data dilakukan dengan pendekatan problem
structuring untuk mengidentifikasi, mendefinisikan, dan menyusun hubungan antar
unsur permasalahan sehingga situasi masalah yang semula tidak terstruktur dapatii
dipahami secara lebih jelas sebagai dasar perumusan alternatif kebijakan dan
pengambilan keputusan yang efektif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan Kertajati Aerocity masih
berada pada tahap pengembangan menengah awal (early development stage) serta
yang menjadi inti persoalannya adalah pengembangan kawasan industri Kertajati
Aerocity mengalami kegagalan transformasi dari pembangunan infrastruktur
menuju pembentukan ekosistem ekonomi kawasan yang terintegrasi. Infrastruktur
strategis yang telah dibangun belum mampu berfungsi sebagai katalis pertumbuhan
ekonomi karena tidak ditopang oleh keselarasan sistem tata ruang, regulasi yang
adaptif, serta pembentukan basis industri yang kuat. Berdasarkan hasil analisis,
pengembangan Kertajati Aerocity dapat lebih efektif apabila kawasan industri dan
logistik ditempatkan sebagai penggerak utama pertumbuhan kawasan, sementara
BIJB berfungsi sebagai infrastruktur pendukung yang berkembang mengikuti
terbentuknya aktivitas ekonomi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan
konektivitas bandara sangat dipengaruhi oleh keberadaan demand riil dari aktivitas
industri, perdagangan, dan logistik yang mampu menciptakan arus penumpang
maupun kargo secara berkelanjutan.
Pembangunan aerocity tidak selalu harus dimulai dari pertumbuhan bandara, tetapi
dapat diawali melalui penguatan kawasan industri dan logistik yang mampu
menciptakan ekosistem ekonomi terlebih dahulu. Dalam konteks Kertajati Aerocity,
pendekatan ini dinilai lebih realistis dan adaptif terhadap kondisi eksisting karena
dapat membangun demand secara bertahap, Temuan ini memberikan dasar empiris
bagi pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan investor untuk merumuskan
strategi perbaikan dan percepatan pengembangan kawasan industri berbasis
Aerocity. Penelitian ini juga berkontribusi secara akademis dalam memperluas
pemahaman mengenai implementasi Aerocity di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB