digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pengembangan kawasan industri berbasis Aerocity merupakan strategi penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi regional, khususnya melalui integrasi dengan bandara sebagai simpul logistik utama. Kawasan Industri Kertajati Aerocity memiliki potensi strategis dalam mendukung konsep Aerocity, namun implementasinya menghadapi berbagai hambatan. Meskipun memiliki perencanaan yang baik dan dukungan infrastruktur strategis, perkembangan kawasan industri Kertajati Aerocity belum menunjukkan capaian yang sepenuhnya sesuai dengan target perencanaan. Beberapa infrastruktur dasar kawasan masih dalam tahap percepatan pembangunan, sementara realisasi investasi dan aktivitas ekonomi yang diharapkan tumbuh di sekitar bandara belum berkembang secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menstrukturkan persoalan apa saja yang menghambat pengembangan Kawasan Industri Kertajati Aerocity dalam konteks pengembangan Aerocity di Kabupaten Majalengka, serta memberikan rekomendasi strategis untuk mengurangi hambatan tersebut guna mempercepat optimalisasi fungsi Kertajati Aerocity sebagai bagian integral dari Aerocity Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan analisis problem structuring yang merupakan kelompok metode analisis yang dikembangkan untuk menangani persoalan yang bersifat kompleks (messy problems), yaitu permasalahan yang memiliki banyak aktor, tujuan yang berbeda, ketidakpastian tinggi, serta tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan optimasi matematis. Metode pengumpulan data kuantitatif pada penelitian ini diperoleh melalui dokumen perencanaan kawasan dan data sekunder terkait infrastruktur, jenis industri, tata ruang, regulasi serta tahapan pengembangan. Data kualitatif dikumpulkan melalui in-depth interview dengan stakeholder strategis, termasuk pejabat Badan Pengelola Kawasan Rebana, pengelola Kertajati Aerocity serta pejabat BIJB Kertajati. Analisis data dilakukan dengan pendekatan problem structuring untuk mengidentifikasi, mendefinisikan, dan menyusun hubungan antar unsur permasalahan sehingga situasi masalah yang semula tidak terstruktur dapatii dipahami secara lebih jelas sebagai dasar perumusan alternatif kebijakan dan pengambilan keputusan yang efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan Kertajati Aerocity masih berada pada tahap pengembangan menengah awal (early development stage) serta yang menjadi inti persoalannya adalah pengembangan kawasan industri Kertajati Aerocity mengalami kegagalan transformasi dari pembangunan infrastruktur menuju pembentukan ekosistem ekonomi kawasan yang terintegrasi. Infrastruktur strategis yang telah dibangun belum mampu berfungsi sebagai katalis pertumbuhan ekonomi karena tidak ditopang oleh keselarasan sistem tata ruang, regulasi yang adaptif, serta pembentukan basis industri yang kuat. Berdasarkan hasil analisis, pengembangan Kertajati Aerocity dapat lebih efektif apabila kawasan industri dan logistik ditempatkan sebagai penggerak utama pertumbuhan kawasan, sementara BIJB berfungsi sebagai infrastruktur pendukung yang berkembang mengikuti terbentuknya aktivitas ekonomi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa keberhasilan konektivitas bandara sangat dipengaruhi oleh keberadaan demand riil dari aktivitas industri, perdagangan, dan logistik yang mampu menciptakan arus penumpang maupun kargo secara berkelanjutan. Pembangunan aerocity tidak selalu harus dimulai dari pertumbuhan bandara, tetapi dapat diawali melalui penguatan kawasan industri dan logistik yang mampu menciptakan ekosistem ekonomi terlebih dahulu. Dalam konteks Kertajati Aerocity, pendekatan ini dinilai lebih realistis dan adaptif terhadap kondisi eksisting karena dapat membangun demand secara bertahap, Temuan ini memberikan dasar empiris bagi pemerintah daerah, pengelola kawasan, dan investor untuk merumuskan strategi perbaikan dan percepatan pengembangan kawasan industri berbasis Aerocity. Penelitian ini juga berkontribusi secara akademis dalam memperluas pemahaman mengenai implementasi Aerocity di Indonesia.