Penggunaan pupuk yang berlebihan pada lahan pertanian secara terus-menerus telah
memicu terjadinya degradasi tanah dan masalah lingkungan seperti pencucian hara. Bersamaan
dengan itu, tingginya produksi jamur tiram turut menghasilkan limbah baglog yang melimpah
namun pemanfaatannya masih sangat terbatas. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut,
penelitian ini berdasarkan pada penerapan prinsip pertanian regeneratif melalui pemanfaatan
limbah, yaitu baglog jamur tiram sebagai mulsa organik. Penelitian ini mengkaji aplikasi
limbah baglog tersebut sebagai mulsa organik untuk meningkatkan kondisi fisik tanah dan
menekan kompetisi gulma, dengan tujuan utama mengoptimalkan laju pertumbuhan dan
produksi biomassa tanaman selada hijau (Lactuca sativa var. crispa). Parameter yang diamati
mencakup aspek morfologi (tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang), fisiologi
(kandungan klorofil a, b, dan total), serta akumulasi biomassa (bobot basah, bobot kering, dan
root-shoot ratio). Pengamatan dilakukan selama enam minggu setelah tanam (HST) dengan
analisis statistika menggunakan uji t-student tidak berpasangan pada tingkat signifikansi 5%.
Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) dianalisis melalui tiga fase pertumbuhan untuk memetakan
dinamika akumulasi biomassa.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mulsa limbah baglog jamur memberikan
pengaruh tidak nyata secara statistik terhadap parameter yang diujikan kecuali tinggi tanaman.
Fase pertumbuhan vegetatif pesat (14–28 Hari Setelah Tanam/HST) menjadi periode paling
krusial, ditandai dengan lonjakan Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) bobot basah yang mencapai
0,183, sementara laju akumulasi bobot kering meningkat hingga 0,132 g/g/hari. Memasuki fase
pematangan krop dan bolting (28–42 HST), laju bobot kering pada perlakuan mulsa terjaga
stabil di angka 0,068 g/g/hari yang difokuskan untuk memadatkan massa daun. Peningkatan
biomassa ini sejalan dengan ekspansi luas daun yang mencapai 133,92 cm², lebih tinggi
dibandingkan kontrol tanpa mulsa yang berada di angka 114,28 cm². Pembentukan organ
vegetatif juga menunjukkan hasil optimal dengan rata-rata jumlah daun mencapai 17 helai
menjelang panen. Dari hasil penelitian di dapatkan rekomendasi masa panen berada pada 30-
35 HST. Pada umur tersebut, sel tanaman mencapai turgor penuh yang memastikan kerenyahan
tekstur daun, diiringi warna hijau cerah seragam yang sesuai dengan preferensi pasar. Secara
keseluruhan, penggunaan mulsa organik limbah baglog jamur tiram menunjukkan
kecenderungan mendukung pertumbuhan, hasil biomassa, dan kandungan klorofil selada
keriting hijau melalui perbaikan kelembapan dan kondisi mikroklimat tanah, sehingga
berpotensi menjadi alternatif bahan mulsa organik dalam budidaya sayuran daun secara
regeneratif.
Perpustakaan Digital ITB