digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Ghinaya Jati Nurfadhilah
PUBLIC Open In Flipbook Alifah Yusriyah Salsabila

Penggunaan pupuk yang berlebihan pada lahan pertanian secara terus-menerus telah memicu terjadinya degradasi tanah dan masalah lingkungan seperti pencucian hara. Bersamaan dengan itu, tingginya produksi jamur tiram turut menghasilkan limbah baglog yang melimpah namun pemanfaatannya masih sangat terbatas. Sebagai solusi atas permasalahan tersebut, penelitian ini berdasarkan pada penerapan prinsip pertanian regeneratif melalui pemanfaatan limbah, yaitu baglog jamur tiram sebagai mulsa organik. Penelitian ini mengkaji aplikasi limbah baglog tersebut sebagai mulsa organik untuk meningkatkan kondisi fisik tanah dan menekan kompetisi gulma, dengan tujuan utama mengoptimalkan laju pertumbuhan dan produksi biomassa tanaman selada hijau (Lactuca sativa var. crispa). Parameter yang diamati mencakup aspek morfologi (tinggi tanaman, jumlah daun, diameter batang), fisiologi (kandungan klorofil a, b, dan total), serta akumulasi biomassa (bobot basah, bobot kering, dan root-shoot ratio). Pengamatan dilakukan selama enam minggu setelah tanam (HST) dengan analisis statistika menggunakan uji t-student tidak berpasangan pada tingkat signifikansi 5%. Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) dianalisis melalui tiga fase pertumbuhan untuk memetakan dinamika akumulasi biomassa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi mulsa limbah baglog jamur memberikan pengaruh tidak nyata secara statistik terhadap parameter yang diujikan kecuali tinggi tanaman. Fase pertumbuhan vegetatif pesat (14–28 Hari Setelah Tanam/HST) menjadi periode paling krusial, ditandai dengan lonjakan Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) bobot basah yang mencapai 0,183, sementara laju akumulasi bobot kering meningkat hingga 0,132 g/g/hari. Memasuki fase pematangan krop dan bolting (28–42 HST), laju bobot kering pada perlakuan mulsa terjaga stabil di angka 0,068 g/g/hari yang difokuskan untuk memadatkan massa daun. Peningkatan biomassa ini sejalan dengan ekspansi luas daun yang mencapai 133,92 cm², lebih tinggi dibandingkan kontrol tanpa mulsa yang berada di angka 114,28 cm². Pembentukan organ vegetatif juga menunjukkan hasil optimal dengan rata-rata jumlah daun mencapai 17 helai menjelang panen. Dari hasil penelitian di dapatkan rekomendasi masa panen berada pada 30- 35 HST. Pada umur tersebut, sel tanaman mencapai turgor penuh yang memastikan kerenyahan tekstur daun, diiringi warna hijau cerah seragam yang sesuai dengan preferensi pasar. Secara keseluruhan, penggunaan mulsa organik limbah baglog jamur tiram menunjukkan kecenderungan mendukung pertumbuhan, hasil biomassa, dan kandungan klorofil selada keriting hijau melalui perbaikan kelembapan dan kondisi mikroklimat tanah, sehingga berpotensi menjadi alternatif bahan mulsa organik dalam budidaya sayuran daun secara regeneratif.