Polusi udara perkotaan, khususnya PM2,5, merupakan permasalahan kesehatan
lingkungan yang signifikan di Jakarta dan berisiko tinggi bagi anak-anak sekolah dasar
sebagai kelompok rentan. Kerentanan ini berkaitan dengan sistem pernapasan yang
masih berkembang serta intensitas aktivitas harian yang meningkatkan peluang pajanan
melalui inhalasi. Dalam konteks tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
tingkat pajanan PM2,5 serta mengevaluasi potensi risiko kesehatannya pada siswa
sekolah dasar di Jakarta Timur, sekaligus membandingkan konsentrasi antara Sekolah
Dasar Negeri dan Sekolah Dasar Swasta sebagai dasar perumusan manajemen risiko.
Penelitian melibatkan 42 siswa dengan pengukuran konsentrasi PM2,5 menggunakan
alat pemantau kualitas udara PurpleAir dengan pendekatan Health Risk Assessment
(HRA). Melalui pendekatan ini, nilai intake dihitung untuk selanjutnya dilakukan
karakterisasi risiko non-karsinogenik menggunakan parameter hazard quotient (HQ).
Analisis statistik turut dilakukan untuk menguji perbedaan konsentrasi antarjenis
sekolah serta menilai hubungan antara intake PM2,5, fungsi paru, dan karakteristik
antropometri siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Sekolah
Dasar Negeri berada pada kisaran 20–46 µg/m³, lebih tinggi dibandingkan Sekolah
Dasar Swasta yang berada pada kisaran 8–38 µg/m³, dengan perbedaan signifikan
berdasarkan uji T. Secara rata-rata, konsentrasi di Sekolah Dasar Swasta masih
memenuhi baku mutu udara dalam ruang, sedangkan di Sekolah Dasar Negeri
melampaui baku mutu. Pola tersebut sejalan dengan nilai intake, di mana siswa Sekolah
Dasar Negeri memiliki kisaran 0,00020–0,00028 mg/kg/hari, sementara Sekolah Dasar
Swasta berkisar 0,00015–0,00027 mg/kg/hari. Meskipun demikian, seluruh nilai HQ ?
1 yang menunjukkan risiko non-karsinogenik rendah pada frekuensi pajanan 240
hari/tahun. Namun, mengingat sifat pajanan yang kumulatif, strategi manajemen risiko
preventif tetap diperlukan. Analisis korelasi menunjukkan hubungan yang tidak
signifikan antara intake PM2,5 dan fungsi paru, demikian pula antara karakteristik
antropometri dan fungsi paru. Temuan ini mengindikasikan bahwa fungsi paru anak
tidak hanya dipengaruhi oleh pajanan selama jam sekolah, tetapi juga oleh akumulasi
pajanan dari mobilitas harian dan lingkungan rumah. Oleh karena itu, upaya
pengendalian direkomendasikan melalui peningkatan filtrasi ruang kelas, pemantauan kualitas udara secara berkala, pemeriksaan kesehatan pernapasan, edukasi, serta
penggunaan masker pada periode kualitas udara buruk.
Perpustakaan Digital ITB