ABSTRAK
ANALISIS MODEL BISNIS PROGRAM LAYANAN LUMPUR
TINJA TERJADWAL BERDASARKAN KARAKTERISTIK
KAWASAN PESISIR: KAJIAN INTEGRASI ASPEK
FINANSIAL, SOSIAL DAN LINGKUNGAN (STUDI KASUS
IPLT KABUPATEN MUNA, SULAWESI TENGGARA)
Oleh
MUHAMMAD REZA AL AZHAR
NIM: 25724003
(Program Studi Magister Pengelolaan Infrastruktur Air Bersih
dan Sanitasi)
Kabupaten Muna sebagai kabupaten pesisir di Sulawesi Tenggara menghadapi
tantangan serius dalam pengelolaan lumpur tinja, ditandai dengan capaian akses
sanitasi aman yang baru mencapai 1,58%. Kondisi ini diperparah oleh karakteristik
kawasan pesisir berupa topografi karst, permukiman tersebar, demografi sosial
ekonomi, dan ketergantungan masyarakat pada air tanah dangkal yang rentan
tercemar. Meskipun IPLT Kabupaten Muna berkapasitas 12 m³/hari telah selesai
dibangun, implementasi program Layanan Lumpur Tinja Terjadwal (LLTT) perlu
dilakukan sebagai strategi percepatan akses sanitasi dan memerlukan model bisnis
yang sesuai. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi eksisting
pengelolaan lumpur tinja, mengkaji kesiapan daerah, merumuskan alternatif model
bisnis LLTT, menentukan model terbaik berdasarkan kelayakan finansial, sosial,
dan lingkungan, serta merekomendasikan strategi pengembangan program LLTT di
Kabupaten Muna. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif-kualitatif
(mixed method) yang mencakup survei kuesioner terhadap 100 responden,
wawancara mendalam kepada tiga stakeholder dari instansi pemerintahan, analisis
spasial untuk penentuan zona prioritas mengingat keterbatasan kapasitas IPLT,
serta analisis kelayakan finansial menggunakan Net Present Value (NPV) dan
Benefit-Cost Ratio (BCR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat
kawasan pesisir masih didominasi penggunaan sistem sanitasi setempat (96%) dan
aksesibilitas jalan lebih memengaruhi layanan LLTT daripada kedekatan geografis
ke IPLT pada wilayah yang berciri tipologi permukiman bervariasi serta berkondisi
sosial-ekonomi relatif rendah dengan mayoritas penduduk bekerja di sektor
perikanan dan pertanian. Tingkat kesiapan implementasi LLTT di Kabupaten Muna
berada pada 42% dan dapat ditingkatkan hingga 82% melalui penguatan regulasi
dan infrastruktur. Dua alternatif model bisnis dikembangkan dengan fokus pada
subsidi silang dengan keterlibatan dan tanpa keterlibatan sektor swasta dalam
pelaksanaan program LLTT. Dua alternatif model menunjukkan kelayakan
finansial, sosial dan lingkungan yang ditunjukkan dengan NPV dan BCR yang
positif dan lebih dari satu, tarif di bawah WTP dan dapat ditingkatkan berdasarkaniii
ATP, penyerapan tenaga kerja, tingkat penerimaan yang tinggi, dan dapat
meningkatkan akses sanitasi aman hingga mencapai 26 % serta potensi resource
recovery. Model bisnis dengan keterlibatan swasta menunjukkan hasil kelayakan
yang lebih baik dalam aspek finansial dengan risiko operasional lebih rendah bagi
pemerintah daerah serta dampak sosial yang lebih baik melalui penyerapan tenaga
kerja. Pada tipikal permukiman kawasan pesisir perlu dilakukan strategi
pengembangan IPLT dengan cakupan pelayanan yang diprioritaskan pada zona
padat dan pengembangan model bisnis yang dapat mengakomodasi sosial ekonomi
masyarakat sehingga dapat meningkatkan akses sanitasi aman di seluruh wilayah
zona pelayanan.
Perpustakaan Digital ITB