digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Microgreens merupakan komoditas hortikultura bernilai tinggi yang berkembang pesat seiring meningkatnya kesadaran konsumen terhadap pola makan sehat dan pertanian urban. Penelitian ini mengintegrasikan tiga pendekatan analisis, yaitu Life Cycle Assessment (LCA), Willingness to Pay (WTP), dan kelayakan finansial, untuk mengkaji keberlanjutan lingkungan, potensi penerimaan pasar, serta kelayakan ekonomi sistem produksi microgreens sunflower (Helianthus annuus var. Black Oil) dengan teknologi pengayaan CO? di wilayah Bandung. Analisis LCA dilakukan dengan pendekatan gate-to-gate mengacu pada standar ISO 14040 dan ISO 14044, mencakup empat kategori dampak utama yaitu Global Warming Potential (GWP), Eutrophication Potential (EP), Cumulative Energy Demand (CED), dan Water Use (WU). Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai GWP sistem sebesar 35,247 kg CO? eq/kg produk, EP sebesar 0,005335 kg PO?³? eq/kg produk, CED sebesar 145,31 MJ/kg produk, dan WU sebesar 50,361 liter/kg produk. Hotspot lingkungan utama adalah penggunaan Air Conditioner, yang menyumbang 39,999 kWh/kg dari total konsumsi listrik 40,251 kWh/kg, dengan kontribusi emisi tidak langsung dari konsumsi energi listrik mencapai 99,3% dari total GWP. Skenario tanpa pengayaan CO? menghasilkan nilai dampak yang lebih tinggi pada seluruh kategori, dengan GWP sebesar 45,552 kg CO? eq/kg, yang menunjukkan bahwa pengayaan CO? meningkatkan efisiensi lingkungan melalui peningkatan produktivitas per unit produk. Strategi perbaikan prioritas adalah transisi sumber energi ke energi surya fotovoltaik yang berpotensi menurunkan GWP hingga 93,6%. Analisis WTP dilakukan melalui metode Single-Bounded Dichotomous Choice dan Open-Ended Question terhadap 191 responden yang terdiri dari 93 segmen individu dan 98 segmen Horeca. Nilai Expected Willingness to Pay (EWTP) segmen individu sebesar Rp25.682,80/10 gram dengan tingkat kesediaan membayar 60,2%, sedangkan segmen Horeca sebesar Rp23.607,14/10 gram dengan tingkat kesediaan membayar 18,3%. Analisis regresi logistik biner pada segmen individu menunjukkan gejala quasi-complete separation, sehingga interpretasi dilakukan secara deskriptif. Secara deskriptif, pendapatan merupakan variabel dengan koefisien terbesar (B = 40,459) yang mengindikasikan relevansi terhadap WTP, sementara jenis kelamin, pendidikan, atribut produk, dan kepedulian lingkungan tidak menunjukkan pengaruh signifikan. Pada segmen Horeca, uji Chi-Square menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara jenis usaha, skala usaha, maupun posisi jabatan dengan kesediaan membayar. Kelayakan finansial menunjukkan bahwa sistem produksi layak secara ekonomi dengan NPV sebesar Rp170.905.834, IRR sebesar 87,52%, Net B/C sebesar 4,68, dan Payback Period sekitar 1,51 tahun. Harga jual sebesar Rp31.500/10 gram masih berada di atas nilai EWTP konsumen, namun analisis sensitivitas menunjukkan bahwa pada skala produksi tahun ke-3 hingga ke-5, kombinasi efisiensi biaya gas CO?, media tanam, dan energi listrik masing-masing sebesar 15% dapat menurunkan harga jual hingga mencapai nilai EWTP segmen individu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun sistem produksi microgreens dengan pengayaan CO? memiliki intensitas karbon yang tinggi akibat ketergantungan pada energi listrik berbahan bakar fosil, sistem ini layak secara finansial dan memiliki potensi pasar yang nyata, khususnya pada segmen konsumen individu perkotaan dengan pendapatan menengah ke atas.