ABSTRAK Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Abdillah Naf'an
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Perwujudan akses yang adil terhadap pendidikan dapat dilakukan melalui
pemenuhan tiga dimensi aksesibilitas pendidikan, salah satunya adalah aksesibilitas
fisik. Upaya pemerintah mewujudkan aksesibilitas fisik salah satunya adalah
kebijakan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jalur zonasi dengan mekanisme
seleksi berupa kedekatan jarak tempat tinggal siswa dengan sekolah. Namun,
pelaksanaannya masih bermasalah akibat ketimpangan antara kapasitas dan
persebaran sekolah dengan kebutuhan calon siswa baru hingga muncul praktik
kecurangan seperti rekayasa data terkait domisili dan koordinat tempat tinggal
seperti yang terjadi pada PPDB jalur zonasi di Kota Bogor, terutama pada jenjang
SMA. Kecurangan yang terjadi pada PPDB SMA jalur zonasi di Kota Bogor
menunjukkan indikasi permasalahan spasial sebagai penyebab kecurangan yang
berkaitan dengan aksesibilitas fisik sehingga diperlukan kajian mengenai kondisi
aksesibilitas fisik SMA negeri di Kota Bogor karena berkaitan yang dapat dilakukan
dengan memanfaatkan Sistem Informasi Geospasial (SIG). Fungsi SIG yang sesuai
untuk digunakan adalah analisis jaringan karena komponen aksesibilitas fisik
seperti jarak dan waktu tempuh erat kaitannya dengan jaringan jalan. Maka,
penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi aksesibilitas fisik SMA negeri
di Kota Bogor menggunakan analisis jaringan. Kondisi aksesibilitas fisik ditinjau
dari jangkauan pelayanan dan kapasitas SMA negeri serta area yang belum terlayani
(blankspot). Penelitian ini menggunakan metode buffer, service area, locationallocation, dan statistik deskriptif dengan memanfaatkan hasil dokumentasi data
sekunder yang berasal dari Dinas Pendidikan Kota Bogor dan Dinas Pekerjaan
Umum dan Penataan Ruang Kota Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kondisi aksesibilitas fisik tergolong kurang karena meskipun SMA negeri yang ada
sudah mampu melayani 79,31% siswa calon lulusan SMP tetapi kapasitas
penerimaan SMA negeri hanya mampu menerima 49,97%, serta terdapat blankspot
di Kecamatan Bogor Barat dan Kecamatan Bogor Selatan yang memerlukan
pembangunan SMA negeri baru di kedua wilayah tersebut.
Perpustakaan Digital ITB