digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Muhammad Farid Ardiansyah R
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Satu dekade penerapan desentralisasi fiskal di Kabupaten Ciamis menunjukkan fenomena bahwa peningkatan status Indeks Desa Membangun (IDM) tidak selalu linear dengan kemandirian fiskal desa. Penelitian ini bertujuan mengukur dampak desentralisasi fiskal terhadap pembangunan desa serta melalui pengelolaan keuangan desa. Penelitian ini mengkomparasi instrumen kebijakan nasional (IDM) dengan instrumen empiris akademis Rural Development Index (IRD). Studi kasus dilakukan secara komparatif pada desa dengan kapasitas fiskal tinggi dan rendah. Hasil penelitian menunjukkan IDM memberikan gambaran optimis dengan dominasi status Mandiri, sedangkan IRD memberikan penilaian lebih ketat dengan dominasi status Low, terutama pada aspek infrastruktur. Temuan krusial membuktikan bahwa status Desa Mandiri pada IDM tidak menjamin kemandirian finansial.Desa dengan PADesa tinggi memiliki otonomi pembangunan nyata, sedangkan desa yang bergantung pada dana transfer memiliki kerentanan fiskal tinggi meskipun berstatus Mandiri.