Food waste merupakan komponen terbesar timbunan sampah perkotaan di
Indonesia dan terus meningkat seiring urbanisasi, sementara sistem pengelolaan
sampah di Kota Bandung masih didominasi pendekatan kumpul-angkut-buang ke
TPA. Kondisi ini menimbulkan beban biaya tinggi, emisi gas rumah kaca, serta
hilangnya potensi ekonomi dari sampah organik. Teknologi biokonversi Black
Soldier Fly (BSF) menawarkan alternatif pengelolaan yang lebih berkelanjutan,
namun belum terdapat kajian komprehensif yang membandingkan model terpusat,
plasma, dan home BSF di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi karakteristik ketiga model pengelolaan sampah organik berbasis
BSF, menentukan model prioritas terbaik berdasarkan analisis multikriteria, serta
menyusun rancangan model bisnis berkelanjutan bagi model terpilih. Penelitian
menggunakan pendekatan studi kasus di Kota Bandung dengan objek berupa model
terpusat di Kelurahan Neglasari, model plasma di Kelurahan Sukaluyu, dan model
home BSF di Kelurahan Neglasari. Data primer diperoleh melalui wawancara
mendalam, observasi lapangan, dokumentasi, dan kuesioner pairwise comparison
kepada lima pakar yang dipilih secara purposive. Analisis dilakukan secara
deskriptif, Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas model,
serta Cost-Effectiveness Analysis (CEA) untuk menilai efisiensi biaya. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa model terpusat memiliki efisiensi biaya terbaik
dengan Cost-Effectiveness Ratio (CER) sebesar Rp1.026/kg, model plasma
menghasilkan emisi transportasi nol, sedangkan model home BSF memiliki
efisiensi lahan tertinggi namun CER paling tinggi setelah biaya waktu warga
diperhitungkan. Analisis AHP menunjukkan aspek kelembagaan menjadi faktor
terpenting dengan bobot 58,80%. Model terpusat memperoleh skor prioritas
tertinggi sebesar 66,42%, jauh di atas model plasma (18,06%) dan home BSF
(15,52%), dengan nilai konsistensi CR = 0,064. Kesimpulannya, model pengelolaan
sampah organik berbasis BSF terpusat merupakan alternatif paling optimal untuk
skala kota karena unggul pada aspek kelembagaan, teknis, lingkungan, dan
finansial. Namun, keberlanjutan finansialnya masih memerlukan transformasi
kelembagaan melalui pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM)
berbadan hukum agar pendapatan dari produk turunan BSF dapat dikelola secara
mandiri dan mendukung tercapainya cost-recovery.
Perpustakaan Digital ITB