digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Food waste merupakan komponen terbesar timbunan sampah perkotaan di Indonesia dan terus meningkat seiring urbanisasi, sementara sistem pengelolaan sampah di Kota Bandung masih didominasi pendekatan kumpul-angkut-buang ke TPA. Kondisi ini menimbulkan beban biaya tinggi, emisi gas rumah kaca, serta hilangnya potensi ekonomi dari sampah organik. Teknologi biokonversi Black Soldier Fly (BSF) menawarkan alternatif pengelolaan yang lebih berkelanjutan, namun belum terdapat kajian komprehensif yang membandingkan model terpusat, plasma, dan home BSF di Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi karakteristik ketiga model pengelolaan sampah organik berbasis BSF, menentukan model prioritas terbaik berdasarkan analisis multikriteria, serta menyusun rancangan model bisnis berkelanjutan bagi model terpilih. Penelitian menggunakan pendekatan studi kasus di Kota Bandung dengan objek berupa model terpusat di Kelurahan Neglasari, model plasma di Kelurahan Sukaluyu, dan model home BSF di Kelurahan Neglasari. Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dokumentasi, dan kuesioner pairwise comparison kepada lima pakar yang dipilih secara purposive. Analisis dilakukan secara deskriptif, Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menentukan prioritas model, serta Cost-Effectiveness Analysis (CEA) untuk menilai efisiensi biaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model terpusat memiliki efisiensi biaya terbaik dengan Cost-Effectiveness Ratio (CER) sebesar Rp1.026/kg, model plasma menghasilkan emisi transportasi nol, sedangkan model home BSF memiliki efisiensi lahan tertinggi namun CER paling tinggi setelah biaya waktu warga diperhitungkan. Analisis AHP menunjukkan aspek kelembagaan menjadi faktor terpenting dengan bobot 58,80%. Model terpusat memperoleh skor prioritas tertinggi sebesar 66,42%, jauh di atas model plasma (18,06%) dan home BSF (15,52%), dengan nilai konsistensi CR = 0,064. Kesimpulannya, model pengelolaan sampah organik berbasis BSF terpusat merupakan alternatif paling optimal untuk skala kota karena unggul pada aspek kelembagaan, teknis, lingkungan, dan finansial. Namun, keberlanjutan finansialnya masih memerlukan transformasi kelembagaan melalui pembentukan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) berbadan hukum agar pendapatan dari produk turunan BSF dapat dikelola secara mandiri dan mendukung tercapainya cost-recovery.