Jalan tol diharuskan untuk selalu dalam kondisi baik, sehingga diperlukan evaluasi kondisi
perkerasan yang tepat sebagai dasar pemeliharaan dan penganggaran kerusakannya. Survei
langsung di jalan tol memiliki keterbatasan seperti, keselamatan, waktu, dan biaya, sehingga
rekaman dashcam menjadi alternatif sumber data awal. Namun data berupa dimensi kerusakan
dari citra dashcam harus diperoleh melalui interpretasi visual, sehingga mengandung
ketidakpastian pengukuran. Penelitian ini mengkuantifikasi ketidakpastian pembacaan dimensi
kerusakan dari citra dashcam menggunakan kerangka JCGM 100:2008, lalu menganalisis
dampaknya terhadap nilai Pavement Condition Index, jenis penanganan, dan Rencana
Anggaran Biaya. Ruas jalan tol di Jakarta sepanjang STA 26+400 sampai STA 0+000 dibagi
menjadi 528 unit sampel sepanjang 50 m. Dimensi kerusakan diukur dengan pendekatan skala
lokal bertingkat, lalu disusun tiga skenario dimensi, yaitu minimum, dasar, dan maksimum.
Hasilnya, PCI dasar rata-rata ruas adalah 95,34 (kategori Good), tetapi turun menjadi 64,33
(kategori Fair) apabila hanya ditinjau pada 69 unit yang memiliki kerusakan teramati.
Sebanyak 15 unit memiliki keakuratan rendah dengan rentang PCI di atas 10 poin, dan 35 dari
69 unit berkerusakan tidak stabil secara klasifikasi kondisi. Pada tingkat segmen penanganan,
5 dari 18 segmen berpotensi berpindah jenis penanganan antarskenario, sehingga total Rencana
Anggaran Biaya berkisar antara Rp21.783.561.700 dan Rp25.310.127.687, dengan nilai
skenario dasar Rp23.168.584.945. Ketidakpastian penentuan tingkat keparahan tidak
dikuantifikasi dalam penelitian ini dan dicatat sebagai keterbatasan penelitian. Nilai PCI
berbasis dashcam karenanya disarankan dibaca sebagai rentang untuk keperluan skrining awal,
bukan sebagai angka tunggal pengganti survei lapangan.
Perpustakaan Digital ITB