digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT Pertamina Patra Niaga adalah anak perusahaan BUMN PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang hilir produk minyak bumi dan rantai pasok, serta menguasai sebagian besar pasar Indonesia. Dalam sistem manajemen kinerjanya, perusahaan menggunakan kerangka Balanced Scorecard sebagai dasar evaluasi KPI, dengan tambahan batas pelaporan 110% dan mekanisme kode warna. Rancangan kebijakan ini berkaitan dengan tiga persoalan yang terlihat pada data: penetapan target KPI yang terlalu rendah (target undersetting), kinerja di atas target yang tidak terekam, dan insentif untuk melakukan metric gaming. Hal ini penting karena hasil evaluasi kinerja di PT Pertamina Patra Niaga terkait erat dengan insentif bonus gaji dan promosi internal. Studi ini membaca fenomena tersebut melalui Labor Process Theory Braverman dan Critical Management Studies. Rancangan penelitian bersifat kuantitatif dan non-parametrik, menggunakan Excel untuk statistik deskriptif dan Minitab untuk pengujian inferensial atas data sekunder yang diperoleh melalui convenience sampling, kemudian diperkuat dengan telaah dokumen atas panduan KPI perusahaan; tiga rangkaian wawancara informal digunakan sebagai latar penafsiran, bukan sebagai data kualitatif tersendiri. Hasil studi adalah sebagai berikut. Terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara realisasi KPI yang dilaporkan dan realisasi yang dihitung ulang, yang muncul karena batas 110% memangkas setiap skor di atas batas tersebut. Median realisasi berada di atas garis dasar target kontraktual 100%, yaitu pola yang konsisten dengan penetapan target yang terlalu rendah dan dengan Hukum Goodhart. Analisis tidak menemukan perbedaan yang signifikan secara statistik di antara 29 divisi yang disampel, sehingga tidak ada divisi tertentu yang menonjol sebagai sumber pola tersebut, meskipun data agregat membuat daya uji tersebut sangat terbatas. Studi ini menyimpulkan bahwa batas pelaporan dan ambang kode warna membatasi efektivitas BSC sebagai instrumen diagnostik operasional di PT Pertamina Patra Niaga, dan merekomendasikan penetapan target yang lebih ambisius, pelonggaran konsekuensi kode warna, serta reformasi kebijakan batas pelaporan.