digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bandung Selatan merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Bandung yang sering dilanda banjir, terutama di kawasan Andir. Banjir tersebut seringkali disebabkan oleh tingginya intensitas hujan dengan durasi yang lama sehingga mengakibatkan meluapnya Sungai Citarum dan anak sungainya. Oleh karena itu, pemerintah membangun Kolam Retensi Andir beserta beberapa infrastruktur pendukung lainnya dalam rangka menanggulangi banjir tersebut. Namun, setelah beroperasi, masih terdapat warga sekitar lokasi Andir tersebut yang mengaku masih kebanjiran. Oleh karena itu, tugas akhir penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi sistem jaringan eksisting, mengevaluasi kinerja dari Kolam Retensi Andir dalam pengendalian banjir, serta pemberian rekomendasi untuk peningkatan kinerja Kolam Retensi Andir dalam pengendalian banjir tersebut. Pembahasan dari hasil penelitian ini terdiri dari analisis hidrologi menggunakan ArcGIS untuk mendelineasikan DAS area studi serta perhitungan manual untuk mencari distribusi hujan jam-jaman Metode Mononobe. Selanjutnya, dilakukan analisis hidraulika menggunakan EPA SWMM untuk mensimulasikan kondisi sebelum adanya Kolam Retensi Andir, kondisi eksisting, serta skenario perubahan pada sistem sesuai rekomendasi yang diberikan. Berdasarkan hasil simulasi, diketahui bahwa Kolam Retensi Andir dapat mengurangi volume flooding pada sistem, dari total 4007,29 juta liter menjadi 3946,13 juta liter. Flooding masih terjadi pada sistem sungai, sementara flooding pada saluran permukiman berkurang. Kondisi eksisting juga menunjukkan bahwa volume maksimum kolam mencapai 89,95 ribu m3 atau sekitar 56% kapasitasnya, dengan debit keluar maksimum 1,50 m³/s. Setelah itu, dilakukan perbandingan terhadap kondisi sebelum dan setelah ada Kolam Retensi Andir dan penilaian terhadap kinerja Kolam Retensi Andir tersebut. Selanjutnya, diberikan beberapa rekomendasi perubahan aspek pada sistem berupa peningkatan kapasitas jaringan drainase pada ruas-ruas yang mengalami permasalahan hidraulik, terutama pada Sungai Citarum dan Sungai Cisangkuy, hingga flooding yang terjadi pada seluruh titik node berhasil dihilangkan.