Dawai kosmik merupakan defek topologis satu dimensi yang terbentuk akibat
perusakan simetri spontan pada alam semesta awal. Dawai kosmik berevolusi
seiring ekspansi alam semesta melalui mekanisme interkomutasi yang menciptakan
struktur dawai tertutup bernama loop. Loop ini berosilasi dengan kecepatan
relativistik dan secara bertahap kehilangan energinya. Dengan mengabaikan
ketebalan loop, dapat digunakan pendekatan Nambu-Goto, sehingga
mekanisme utama pelepasan energi dari loop terjadi melalui emisi gelombang
gravitasi. Superposisi acak dari emisi seluruh populasi loop kemudian menghasilkan
latar belakang gelombang gravitasi yang dapat dianalisis. Namun,
populasi biner kompak, sebagai sumber gelombang gravitasi diskret terkuat
di alam semesta, turut menghasilkan latar belakang gelombang gravitasi yang
menjadi gangguan dalam mendeteksi sinyal dawai kosmik. Tugas Akhir ini
bertujuan untuk mengevaluasi detektabilitas latar belakang gelombang gravitasi
dawai kosmik di tengah gangguan populasi biner kompak, menggunakan
interferometer masa depan (LISA, BBO, DECIGO, Einstein Telescope, Cosmic
Explorer). Spektrum densitas energi fraksional !GW dari dawai kosmik
dan populasi biner kompak dianalisis secara kualitatif melalui identifikasi rentang
frekuensi tumpang tindih, serta secara kuantitatif melalui perhitungan
Signal-to-Noise Ratio (SNR) terhadap Power Law Integrated Sensitivity Curve
(PLISC) dari masing-masing interferometer. Hasil menunjukkan bahwa
semakin kecil tegangan dawai kosmik G? maka semakin banyak gangguan
populasi biner kompak yang bertumpang tindih dengan spektrum dawai kosmik.
Namun, berdasarkan kriteria SNR ? 10 dan waktu observasi Tobs = 3
tahun, didapatkan bahwa dawai kosmik untuk tegangan G? = 10?10 hingga
G? = 10?16 dapat dideteksi untuk semua interferometer yang ditinjau, kecuali
pada G? = 10?17 untuk interferometer LISA, dawai kosmik memiliki SNR di
bawah ambang batas. Ini mengindikasikan bahwa tumpang tindih frekuensi secara
kualitatif tidak langsung menurunkan SNR secara signifikan, karena SNR
mengakumulasi kontribusi di seluruh rentang frekuensi sensitif interferometer,
sementara tumpang tindih hanya mencakup sebagian rentang saja.
Perpustakaan Digital ITB