digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 6 Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 7 Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Ahmad Raihan Adiwibowo
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Distribusi bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas strategis memiliki ketergantungan tinggi terhadap kondisi jaringan jalan, sehingga rentan terhadap gangguan bencana yang mendegradasi kinerja jaringan jalan meskipun stok BBM berada pada level yang aman. Penelitian ini mengembangkan kerangka analisis terintegrasi berbasis jaringan yang menghubungkan estimasi cepat kedalaman genangan dengan evaluasi kinerja jaringan jalan dan sistem distribusi BBM, dengan studi kasus Kabupaten Aceh Utara pada kejadian banjir Sumatera November 2025. Kedalaman genangan diestimasi secara statis dari observasi aktual genangan hasil citra Synthetic Aperture Radar Sentinel-1 dengan data Digital Elevation Model, kemudian dikembangkan menjadi lima skenario kedalaman. Dampak genangan diterjemahkan ke dalam degradasi fungsional setiap ruas jalan menggunakan pendekatan berbasis graf, yang selanjutnya digunakan untuk mengevaluasi perubahan struktur dan aksesibilitas jaringan serta pengaruhnya terhadap redistribusi permintaan BBM yang dimodelkan berdasarkan kapasitas penyaluran dan hambatan waktu tempuh. Hasil menunjukkan bahwa pada kondisi terparah, connectivity index antar kecamatan turun hingga hanya sekitar seperenambelas kondisi normalnya, disertai fragmentasi spasial yang terdefinisi jelas antara kelompok kecamatan di wilayah barat dan timur. Fragmentasi ini memicu konsolidasi permintaan yang menghasilkan shortage di SPBU-SPBU tertentu, sementara terputusnya akses dari sejumlah kecamatan menuju seluruh SPBU menyebabkan terjadinya permintaan yang tidak tersalurkan sama sekali. Perbedaan ambang batas toleransi genangan antar jenis kendaraan menghasilkan kondisi di mana masyarakat lebih kesulitan mengakses SPBU dibandingkan kemampuan armada mobil tangki dalam menyalurkan pasokan. Dari sisi operasional, peningkatan waktu tempuh yang terjadi mengurangi kemampuan penyelesaian ritase harian setiap armada sehingga dibutuhkan lebih banyak armada pada kondisi banjir, meskipun seluruh SPBU tetap dapat dijangkau di semua skenario.