Kompetisi di industri logistik sangatlah ketat khususnya di area industri dimana kebutuhan logistik perusahaan relatif tinggi. Untuk dapat menjadi kompetitif, salah satu cara yang perusahaan-perusahaan bisa lakukan adalah menambah aset untuk menunjang operasional mereka dan mengakomodir peningkatan pendapatan potensial. Alhasil, jumlah pendanaan yang signifikan diperlukan agar perusahaan dapat menambah aset mereka. Pendanaan ini bisa berasal dari internal maupun eksternal. Jika perusahaan memilki dana internal yang cukup untuk mendanai pembelian aset maka perusahaan tidak perlu lagi menggunakan pendanaan eksternal akan tetapi hal seperti itu tidak banyak terjadi. Selain dari dana internal, perusahaan juga melakukan pendanaan eksternal karena pendanaan yang diperlukan berjumlah signifikan. Jika perusahaan melakukan pendanaan internal saja, maka ini akan menganggu kestabilan arus kas perusahaan di masa mendatang.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa pilihan pinjaman bank vs sewa untuk PT Sarana Logitcs, sebuah perusahaan logistik yang menyediakan jasa trucking. Seiring dengan meningkatnya permintaan jasa tersebut, perusahaan berharap menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin dengan cara membeli truk baru. Keputusan ini semakin tidak terelakan karena kompetisi yang semakin ketat dan datangnya pesaing baru yang dikarenakan pasar yang semakin berkembang. Evaluasi antara sewa atau pinjaman bank dianalisa dengan cara membandingkan nilai kini neto (NPV) arus kas keluar. Tingkat diskonto yang dipakai di perhitungan ini adalah rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)
Hasil penelitian ini menunjukan NPV arus kas keluar dari pinjaman bank dengan tingkat diskonto menggunakan WACC sebesar Rp5.989.338.130. Ini lebih rendah dibandingkan NPV arus kas keluar dari sewa sebesar Rp 6.027.300.722. Meskipun sewa memiliki beberapa keuntungan non finansial, PT Sarana Logistics menitikberatkan pertimbangan mereka berdasarkan metriks finansial. Maka dari itu, PT Sarana Logistics disarankan untuk memilih opsi pinjaman untuk membeli sebagai opsi pendaanan mereka.
Implementasi dimulai dengan melakukan pertemuan dengan pihak bank dan dealer untuk menyediakan dokumen-dokumen yang dibutuhkan seperti agunan dan laporan keuangan. Selain itu, PT Sarana Logistics juga harus membuat proyeksi pendapatan yang akan membantu memastikan perusahaan dalam kondisi likuiditas yang bagus di masa depan. Proyeksi yang dibuat harus direviu secara periodic oleh Direktur perusahaan untuk memastikan kondisi keuangan perusahaan yang sehat supaya bisa menambah ruang untuk belanja modal di tahun mendatang.
Perpustakaan Digital ITB