2026 TS PP ABDUL RAHMAN HAKIM AR-RASYID PRAMONO 19023009 – COVER
PUBLIC Open In Flipbook Wiwik Istiyarini
Penelitian ini mengeksplorasi negosiasi psikologis dan fungsional konsumen Indonesia ketika
menghadapi potensi transisi dari dominasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS)
menuju teknologi pembayaran nirsentuh Near Field Communication (NFC). Menggunakan
metodologi kualitatif interpretif, wawancara mendalam semi-terstruktur dilakukan dengan
informan dari Generasi Z, Milenial, dan Generasi X di wilayah metropolitan Bandung dan Jakarta.
Kerangka teoretis dalam penelitian ini mengintegrasikan Technology Acceptance Model (TAM),
Innovation Resistance Theory (IRT), dan paradigma Push-Pull-Mooring (PPM) untuk
menganalisis perilaku konsumen secara sistematis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa
meskipun konsumen secara luas mengakui efisiensi NFC yang lebih unggul, khususnya pada
kecepatan "tap-and-go" yang minim friksi serta ketidakbergantungannya pada internet, adopsi
teknologi ini sangat terhambat oleh "Paradoks Keamanan" yang multidimensional.
Dihilangkannya validasi PIN manual memicu persepsi risiko yang akut, yang terpolarisasi
menjadi ketidakpercayaan eksternal terhadap lingkungan kejahatan urban lokal dan keraguan
internal terkait kelalaian pribadi. Selain itu, meskipun kepercayaan institusional pada merek bank
konvensional menawarkan jaminan struktural awal, mitigasi ini gagal ketika konsumen
mengantisipasi birokrasi pemulihan dana pasca-penipuan yang melelahkan. Adopsi di tingkat
individu juga terhenti oleh hambatan lingkungan makro yang parah, termasuk kesenjangan
infrastruktur EDC yang membebani pedagang mikro (UMKM), fragmentasi perangkat, serta
defisit sosialisasi institusional yang masif. Alih-alih menuju satu jalur adopsi tunggal, informan
terbagi ke dalam tiga orientasi: kelompok yang cenderung ke NFC, kelompok yang tetap bertahan
pada QRIS, dan sebagian kecil yang menerapkan "Strategi Hibrida" bersyarat, yaitu tetap
menggunakan QRIS untuk transaksi bernilai tinggi yang terlindungi PIN, dan menggunakan NFC
secara selektif untuk transaksi bernilai rendah dengan kecepatan tinggi. Keberagaman ini
menunjukkan bahwa keputusan adopsi lebih dibentuk oleh persepsi risiko individu, kebiasaan,
dan kepercayaan institusional dibandingkan sekadar faktor generasi. Penelitian ini
merekomendasikan agar Bank Indonesia menetapkan arsitektur mobile-NFC dengan open-API
terstandar untuk mengatasi fragmentasi perangkat, serta mendorong bank komersial untuk
mengimplementasikan parameter keamanan yang mendetail (granular) dan dapat dikendalikan
pengguna di dalam aplikasi mobile guna memecahkan paradoks keamanan tersebut secara efektif.
Kata Kunci: NFC, QRIS, Push-Pull-Mooring, Paradoks Keamanan, Technology Acceptance
Model.
Perpustakaan Digital ITB