digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini mengeksplorasi negosiasi psikologis dan fungsional konsumen Indonesia ketika menghadapi potensi transisi dari dominasi Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) menuju teknologi pembayaran nirsentuh Near Field Communication (NFC). Menggunakan metodologi kualitatif interpretif, wawancara mendalam semi-terstruktur dilakukan dengan informan dari Generasi Z, Milenial, dan Generasi X di wilayah metropolitan Bandung dan Jakarta. Kerangka teoretis dalam penelitian ini mengintegrasikan Technology Acceptance Model (TAM), Innovation Resistance Theory (IRT), dan paradigma Push-Pull-Mooring (PPM) untuk menganalisis perilaku konsumen secara sistematis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa meskipun konsumen secara luas mengakui efisiensi NFC yang lebih unggul, khususnya pada kecepatan "tap-and-go" yang minim friksi serta ketidakbergantungannya pada internet, adopsi teknologi ini sangat terhambat oleh "Paradoks Keamanan" yang multidimensional. Dihilangkannya validasi PIN manual memicu persepsi risiko yang akut, yang terpolarisasi menjadi ketidakpercayaan eksternal terhadap lingkungan kejahatan urban lokal dan keraguan internal terkait kelalaian pribadi. Selain itu, meskipun kepercayaan institusional pada merek bank konvensional menawarkan jaminan struktural awal, mitigasi ini gagal ketika konsumen mengantisipasi birokrasi pemulihan dana pasca-penipuan yang melelahkan. Adopsi di tingkat individu juga terhenti oleh hambatan lingkungan makro yang parah, termasuk kesenjangan infrastruktur EDC yang membebani pedagang mikro (UMKM), fragmentasi perangkat, serta defisit sosialisasi institusional yang masif. Alih-alih menuju satu jalur adopsi tunggal, informan terbagi ke dalam tiga orientasi: kelompok yang cenderung ke NFC, kelompok yang tetap bertahan pada QRIS, dan sebagian kecil yang menerapkan "Strategi Hibrida" bersyarat, yaitu tetap menggunakan QRIS untuk transaksi bernilai tinggi yang terlindungi PIN, dan menggunakan NFC secara selektif untuk transaksi bernilai rendah dengan kecepatan tinggi. Keberagaman ini menunjukkan bahwa keputusan adopsi lebih dibentuk oleh persepsi risiko individu, kebiasaan, dan kepercayaan institusional dibandingkan sekadar faktor generasi. Penelitian ini merekomendasikan agar Bank Indonesia menetapkan arsitektur mobile-NFC dengan open-API terstandar untuk mengatasi fragmentasi perangkat, serta mendorong bank komersial untuk mengimplementasikan parameter keamanan yang mendetail (granular) dan dapat dikendalikan pengguna di dalam aplikasi mobile guna memecahkan paradoks keamanan tersebut secara efektif. Kata Kunci: NFC, QRIS, Push-Pull-Mooring, Paradoks Keamanan, Technology Acceptance Model.