ABSTRAK_Siti Sarah
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan
Kepadatan penduduk menyebabkan lahan dan hunian di daerah perkotaan semakin terbatas. Hal ini menyebabkan developer menciptakan tren hunian baru untuk mengefisiensikan lahan yang terbatas. Tren yang diciptakan adalah tren hunian yang compact dengan target pengguna pasangan muda atau individu dengan harga yang lebih terjangkau. Hunian compact ini tentunya kurang cocok bagi lansia, dimana rata - rata unit kamar berada di lantai atas. Tren ini kurang memikirkan aspek intergenerasi sehingga dapat menyebabkan berkurangnya interaksi sosial antargenerasi yang juga berdampak pada lemahnya ikatan sosial dan menciptakan jarak yang signifikan antara generasi tua dan muda. Selain itu, tren ini juga berdampak pada timbulnya rasa kesepian pada lansia. Banyak lansia yang merasa kesepian karena hidup sendiri dan kurangnya interaksi sosial. Kesepian pada lansia ini memiliki dampak yang negatif bagi kesehatan dan kesejahteraan lansia seperti penurunan kualitas hidup, meningkatnya tingkat stress, dan memicu depresi. Selain itu, kesepian pada lansia juga dapat menyebabkan lansia merasa terisolasi secara sosial. Tren hunian yang compact juga berkontribusi pada terhambatnya transfer nilai ilmu budaya ke generasi selanjutnya yang dapat menyebabkan pudar dan hilangnya identitas budaya seiring berjalannya waktu. Untuk menanggapi isu tersebut, dibutuhkan sebuah tempat dimana antar generasi dapat hidup berdampingan, berinteraksi, dan berbagi pengalaman. Solusi yang diajukan berupa pengadaan permukiman intergenerasi. Permukiman ini tidak hanya menyediakan hunian, tapi juga dilengkapi dengan intergeneration center sebagai fasilitas utamanya. Intergeneration center ini dirancang supaya dapat mendorong interaksi aktif maupun kolaborasi dari para penggunanya baik secara spontan maupun dengan kegiatan yang diadakan. Interaksi ini diharapkan dapat menciptakan hubungan antar generasi yang harmonis dan saling mendukung. Melalui analisis yang telah dilakukan, terdapat 3 persoalan perancangan yaitu mendorong interaksi sosial, permeabilitas, dan merancang di kawasan urban. Untuk menjawab persoalan tersebut, digunakanlah pendekatan dari beberapa teori seperti teori Inclusivity Design oleh Howard Fletcher (2006), aging in places oleh Wiles, dkk (2012), dan Sense of Community oleh Osmond (1957). Teori - teori ini menjadi landasan konseptual dalam menciptakan permukiman intergenerasi. Seluruh teori tersebut kemudian digabungkan untuk merumuskan kriteria desain untuk menjawab persoalan perancangan yang ada dan dilanjutkan dengan perumusan ide alternatif konsep desain.
Perpustakaan Digital ITB