digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

2024 TA PP QANISSA AGHARA 1.pdf
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Museum publik didefinisikan sebagai sebuah institusi permanen yang bertanggung jawab terhadap warisan konkret dan niskala. Konservasi, interpretasi, dan pemajangan merupakan beberapa kewenangan dari museum. Koleksi museum, terutama koleksi kolonial seringkali menjadi pusat pertentangan. Koleksi kolonial merujuk pada artefak yang berkaitan dengan sejarah kolonial, baik dibuat maupun diklaim kewenangannya oleh pihak otoritas kolonial. Rijksmuseum, Amsterdam yang merupakan museum sejarah dan seni terbesar di Belanda, menaungi koleksi kolonial yang jumlahnya tidak sedikit. Penelitian ini memusatkan perhatian pada Ruang 1.17 The Netherlands Overseas, khususnya pada Segmen "The Dutch East Indies". Segmen tersebut memamerkan koleksi kolonial yang berafiliasi dengan Hindia Belanda—kini dikenal sebagai Indonesia—ketika masih merupakan wilayah koloni Belanda. Batasan pada penelitian ini merujuk pada sebelas artefak di Segmen The Netherlands Overseas “The Dutch East Indies”. Rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana presentasi pada Segmen The Netherlands Overseas “The Dutch East Indies” di Rijksmuseum, Amsterdam merefleksikan konsep Kolonialisme, Kuasa dan Pengetahuan? Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan paradigma konstruktivisme- interpretivisme. Pengumpulan data dilakukan melalui kunjungan lapangan, dokumentasi, observasi, dan kaji pustaka. Penelitian ini bersifat interdisiplin dengan melibatkan keilmuan seni, studi museum, dan studi pascakolonial. Pendekatan ilmu yang digunakan meliputi Colonialism/Postcolonialism oleh Ania Loomba, Teori Rancangan Pameran dengan Perspektif Pengunjung oleh Tiina Roppola, Museum, Kuasa, dan Pengetahuan oleh Tony Bennett yang juga berlandaskan pada teori Kuasa dan pengetahuan Foucault, serta teori Puitika dan Politik Pajangan dari Ivan Karp dan Steven D Lavine. Analisis pada penelitian ini meliputi aspek pemajangan atau penempatan fisik koleksi, alur naratif wacana yang dihadirkan oleh museum, serta perluasan diskursif atau pemahaman pengunjung yang aktif dalam interaksi di ruang pajang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan Rijksmuseum sebagai museum publik tidak dapat dilepaskan dari praktik produksi pengetahuan modern dan intervensi budaya yang diterapkan oleh sistem kolonial. Kolonialisme Eropa secara tidak langsung merupakan bagian yang inheren dari perkembangan Rijksmuseum sebagai museum nasional. Dalam konteks display ruang pajang, ditemukan juga bahwa aspek spasial dalam ruangan secara intensional dikonstruksikan untuk mendukung penyampaian wacana, meskipun ditemukan beberapa kecenderungan tematik yang berbeda pada koleksi. Koleksi pada Segmen "The Dutch East Indies" saling merefleksikan wacana modernisasi, kapitalisme, industrialisasi, hingga konstruksi identitas wilayah koloni. Terlepas dari adanya konstruksi identitas oleh otoritas kolonial, penelitian ini juga menemukan bahwa, pertemuan kolonial yang berjalan lama, membuat seluruh pihak terlibat dalam relasi hibriditas. Kolonialisme tidak dapat diartikan hanya berdasarkan pada periode yang terbatas. Kolonialisme modern memiliki dampak nyata di masa kini, bahkan masa depan. Penelitian ini mencoba untuk memahami kompleksitas situasi kolonial yang berdampak lintas periode. Kuasa dan Pengetahuan direfleksikan pada relasi kolonial yang berafiliasi dengan Segmen The Netherlands Overseas ”The Dutch East Indies” Ruang Pajang 1.17 Rijksmuseum, Amsterdam. Relasi Kuasa dan Pengetahuan direfleksikan melalui koleksi dan pengaturan ruang pajang yang lebih banyak melibatkan pertentangan pada tingkat konseptual.