digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 1 Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 2 Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 3 Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 4 Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 5 Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

PUSTAKA Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

LAMPIRAN Marlina Herlambang
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

Air adalah kebutuhan yang sangat pokok bagi masyarakat untuk dapat hidup dengan layak. Sumber daya air adalah salah satu jenis sumber daya terbarukan yang tidak akan habis. Sayangnya, sumber daya air belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga menimbulkan berbagai bencana. Salah satu faktor kelangkaan sumber daya air adalah maraknya pembangunan dan pertumbuhan penduduk pada suatu kawasan peri-urban menyebabkan kelangkaan sumber daya air. Pada kawasan peri-urban Kota Bandung yang memiliki dataran rendah seringkali mengalami banjir. Selain itu, kelangkaan air karena menurunnya muka air tanah juga mulai dirasakan masyarakat. Jumlah permintaan air dengan kesediaan air yang tidak seimbang memberikan dampak pada kelangkaan air. Pasalnya, kawasan peri-urban Kota Bandung direncanakan memiliki dominansi kawasan permukiman dan bangunan lainnya yang meningkatkan kebutuhan air, sedangkan konservasi air tanah dan air permukaan sendiri belum mendapatkan banyak perhatian. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dampak perubahan guna lahan dan pertumbuhan penduduk pada daya dukung air. Tujuan studi ini adalah menanggapi kebijakan pemerintah dalam mengupayakan konservasi air pada wilayah studi. Kabupaten Bandung akan terus bertumbuh dan intensitas tinggi kawasan terbangun merupakan hal yang tidak dapat dihindari. Penelitian ini dilakukan dengan mengukur ketersediaan serta kebutuhan air sejak tahun 2011, tahun 2020, serta proyeksinya hingga tahun 2030. Hasil studi ini menghasilkan status daya dukung air pada kawasan studi ini sangat rendah atau defisit, yakni rasio kelangkaan <1 (tinggi). Pada kebijakan daerah pun banyak terdapat ketidaksesuaian antara kebijakan daerah provinsi dan kota serta RPJPD dan RTRW. Sehingga dapat dirumuskan beberapa rekomendasi bagi kebijakan tata ruang di Kabupaten Bandung, seperti sinkronisasi kebijakan, penataan ruang lindung, penambahan pola ruang untuk badan air buatan, peningkatan pengawasan, peningkatan infrastruktur air, dan inovasi lain seperti penggunaan bahan aspal berpori untuk mengurangi banjir. Pemanfaatan air limpasan hujan yang tinggi pada daerah terbangun sangat berpengaruh dalam mengurangi gap kebutuhan air yang tinggi pada Kabupaten Bandung