Meningkatnya kepekaan masyarakat akan isu lingkungan dan kesehatan akibat perputaran
informasi yang semakin pesat dan fenomena Covid-19 yang sedang terjadi membuat gaya
hidup conscious atau gaya hidup sadar semakin banyak dijalani oleh masyarakat usia
produktif di Jakarta. Salah satunya adalah gaya hidup vegan, hal ini ditandai dengan
semakin maraknya produk dengan label Vegan atau Cruelty-Free di pasaran. Kelompok
vegan ini tidak hanya memerhatikan dietnya saja, namun segala produk yang dikonsumsi
dan juga segala aktivitas yang dilakukan. Sehingga timbulnya urgensi terhadap
penyesuaian kebutuhan terkait program aktivitas di dalam ruang, khususnya dapur. Selain
itu, pemilihan jenis material dan respon terhadap lingkungan sekitar menjadi perhatian
dalam perancangan dapur ini. Untuk itu perancangan ruang dapur melalui pendekatan
reversible design dilakukan sebagai upaya untuk menjawab isu lingkungan di Jakarta
mengenai ruang hunian yang semakin menyempit dan adanya urgensi menjalani kehidupan
yang lebih berkelanjutan sebagai individu melalui gaya hidup vegan.
Perancangan ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa design thinking dengan
tahap emphatize, definde, ideate, dan evaluate. Tahapan design thinking tersebut dilakukan
secara deskriptif dan teoritis meliputi (1) mengidentifikasi masalah terkait gaya hidup
vegan dan ruang hunian terbatas, (2) melakukan studi preseden dengan mengkomparasi
perancangan dapur terdahulu sejenis, (3) melakukan wawancara dan observasi terhadap
pengguna vegan terkait motivasi gaya hidup dan aktivitasnya di dalam dapur, (4)
merancang konsep desain dapur mengacu pada program kebutuhan ruang penggua vegan
dan standar aturan perancangan dapur, dan (5) melakukan evaluasi secara deskriptif dan
teoritis serta evaluasi oleh responden.
Penyesuaian program kebutuhan ruang yang menonjol bagi pengguna vegan adalah penting
dalam menjaga kesegaran bahan makanan. Pengguna biasanya melakukan aktivitas belanja
satu minggu sekali dengan membeli bahan makanan sekucupnya untuk memasak dalam
rentang waktu tersebut. Aktivitas yang dilakukan pada area persiapan meliputi memotong,
mengupas, merendam, dan mancampur, sedangkan pada area memasak terdapat kegiatan
menumis sebagai kegiatan yang paling sering dilakukan. Kegiatan memasak lainnya
meliputi merebus, menggoreng dan memanggang roti. Kegiatan lain yang biasa dilakukan
ketika memasak adalah menonton Youtube atau mendengarkan podcast, serta melakukan
kegiatan bekerja di ruang makan. Pengguna memasak dengan porsi sekali makan untuk
menghindari menyisakan makanan dan memanaskan makanan menggunakan microwave.
Secara teknis, perancangan mebel pada dapur secara keseluruhan menggunakan sistem
sambungan struktur tanpa penggunaan lem atau sekrup untuk menghindari kerusakan
komponen ketika dibongkar-pasang. Perancangan dapur ini menggunakan metarial yang
ramah lingkungan dan vegan seperti papan bambu laminasi, stainless steel, dan kaca.
Perancangan dipaparkan secara skematik berupa sketsa, gambar teknik, gambar 3D, dan
perspektif digital. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi perancangan atas
kebutuhan pengguna vegan di dalam dapur dan menjadi salah satu solusi dalam menjawab
isu hunian terbatas di Jakarta.
Perpustakaan Digital ITB