digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Meningkatnya kepekaan masyarakat akan isu lingkungan dan kesehatan akibat perputaran informasi yang semakin pesat dan fenomena Covid-19 yang sedang terjadi membuat gaya hidup conscious atau gaya hidup sadar semakin banyak dijalani oleh masyarakat usia produktif di Jakarta. Salah satunya adalah gaya hidup vegan, hal ini ditandai dengan semakin maraknya produk dengan label Vegan atau Cruelty-Free di pasaran. Kelompok vegan ini tidak hanya memerhatikan dietnya saja, namun segala produk yang dikonsumsi dan juga segala aktivitas yang dilakukan. Sehingga timbulnya urgensi terhadap penyesuaian kebutuhan terkait program aktivitas di dalam ruang, khususnya dapur. Selain itu, pemilihan jenis material dan respon terhadap lingkungan sekitar menjadi perhatian dalam perancangan dapur ini. Untuk itu perancangan ruang dapur melalui pendekatan reversible design dilakukan sebagai upaya untuk menjawab isu lingkungan di Jakarta mengenai ruang hunian yang semakin menyempit dan adanya urgensi menjalani kehidupan yang lebih berkelanjutan sebagai individu melalui gaya hidup vegan. Perancangan ini menggunakan metode penelitian kualitatif berupa design thinking dengan tahap emphatize, definde, ideate, dan evaluate. Tahapan design thinking tersebut dilakukan secara deskriptif dan teoritis meliputi (1) mengidentifikasi masalah terkait gaya hidup vegan dan ruang hunian terbatas, (2) melakukan studi preseden dengan mengkomparasi perancangan dapur terdahulu sejenis, (3) melakukan wawancara dan observasi terhadap pengguna vegan terkait motivasi gaya hidup dan aktivitasnya di dalam dapur, (4) merancang konsep desain dapur mengacu pada program kebutuhan ruang penggua vegan dan standar aturan perancangan dapur, dan (5) melakukan evaluasi secara deskriptif dan teoritis serta evaluasi oleh responden. Penyesuaian program kebutuhan ruang yang menonjol bagi pengguna vegan adalah penting dalam menjaga kesegaran bahan makanan. Pengguna biasanya melakukan aktivitas belanja satu minggu sekali dengan membeli bahan makanan sekucupnya untuk memasak dalam rentang waktu tersebut. Aktivitas yang dilakukan pada area persiapan meliputi memotong, mengupas, merendam, dan mancampur, sedangkan pada area memasak terdapat kegiatan menumis sebagai kegiatan yang paling sering dilakukan. Kegiatan memasak lainnya meliputi merebus, menggoreng dan memanggang roti. Kegiatan lain yang biasa dilakukan ketika memasak adalah menonton Youtube atau mendengarkan podcast, serta melakukan kegiatan bekerja di ruang makan. Pengguna memasak dengan porsi sekali makan untuk menghindari menyisakan makanan dan memanaskan makanan menggunakan microwave. Secara teknis, perancangan mebel pada dapur secara keseluruhan menggunakan sistem sambungan struktur tanpa penggunaan lem atau sekrup untuk menghindari kerusakan komponen ketika dibongkar-pasang. Perancangan dapur ini menggunakan metarial yang ramah lingkungan dan vegan seperti papan bambu laminasi, stainless steel, dan kaca. Perancangan dipaparkan secara skematik berupa sketsa, gambar teknik, gambar 3D, dan perspektif digital. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi perancangan atas kebutuhan pengguna vegan di dalam dapur dan menjadi salah satu solusi dalam menjawab isu hunian terbatas di Jakarta.