Sejak beberapa tahun terakhir, biaya kemacetan telah menjadi perhatian para
pembuat kebijakan dan akademisi di berbagai bidang di seluruh dunia. Sistem
pendanaan ini terbukti tidak hanya efektif dalam mengurangi tingkat kemacetan
tetapi juga dalam menjaga kelestarian lingkungan perkotaan. Oleh karena itu,
beberapa kota/negara mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menerapkan
metode tersebut, terutama untuk kota yang bergantung pada mobil untuk
mempromosikan sistem transportasi yang lebih baik.
Untuk mengelola permintaan lalu lintas yang dinamis, maka perlu dikaji reaksi
pengguna terhadap sistem biaya kemacetan untuk mengetahui perubahan perilaku
apa saja yang mungkin terjadi sehingga dapat diantisipasi sebelum kebijakan
tersebut diterapkan. Studi ini akan mengobservasi preferensi pengguna jalan di
bawah penetapan harga kemacetan terhadap opsi kebijakan alternatif.
Memanfaatkan survei SP dan PP, studi ini membuat model untuk menangkap
respons perilaku perjalanan yang heterogen di bawah harga kemacetan. Selain itu,
sebagai analisis lebih lanjut, studi ini juga menunjukkan kemungkinan perubahan
perilaku perjalanan terhadap dua skema penetapan harga kemacetan yang berbeda
yaitu cordon dan distance-based dan juga meneliti hubungannya dengan beberapa
atribut termasuk harga, penghematan waktu dan jarak egress (jarak dari
halte/stasiun terdekat ke lokasi destinasi). Survei ini melibatkan 1.846 perjalanan
sebagai samples yang dilakukan oleh peserta terpilih yang secara teratur melewati
Area CBD di kota Hiroshima dan kota Kumamoto yang berkendara secara teratur
menggunakan mobil. Terdapat 6 alternatif pilihan yang diidentifikasikan sebagai
reaksi dari penerapan biaya kemacetan antara lain 1) tetap membayar biaya; 2)
tidak melakukan perjalanan; 3) mengganti zona waktu; 4) mengganti tujuan
perjalanan; 5) mengganti moda transportasi; dan 6) mengganti rute perjalanan.
Dalam pengembangan model, penelitian ini menggunakan metode Multinomial
Logit (MNL). Model dikembangkan dengan melihat beberapa faktor yang
dianggap mempengaruhi alternatif yaitu pendapatan, umur, tujuan perjalanan,
penghematan waktu, harga kemacetan dan jarak egress sebagai variabel kebijakan.
Selain itu, dalam penelitian ini dilakukan simulasi yang melibatkan atribut-atributiv
seperti harga kemacetan, penghematan waktu dan perbaikan fasilitas trasnportasi
umum yang direpresentasikan dengan pengurangan jarak egress.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa probabilitas
perubahan perilaku perjalanan lebih sensitif terhadap perubahan harga daripada
perubahan penghematan waktu atau perubahan jarak egress. Selain itu, Skema
Cordon dan Distance-based menunjukkan perbedaan kinerja dalam mengurangi
kemacetan di kawasan CBD secara spasial. Dikarenakan tujuan utama dari
penetapan harga kemacetan adalah untuk mengurangi kemacetan di dalam
kawasan CBD, maka skema berbasis jarak (Distance Based) lebih
direkomendasikan untuk diterapkan di pusat area CBD. Selain itu, studi ini juga
mempertimbangkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa penerapan biaya
kemacetan akan berdampak pada pengurangan jumlah kunjungan ke kawasan
CBD. Oleh karena itu, dalam mempertahankan jumlah kunjungan ke kawasan
CBD, studi ini menyimpulkan bahwa harga kemacetan akan lebih efektif jika
diimbangi dengan peningakatn fasilitas angkutan umum yang memadai, yang
dalam hal ini direpresentasikan oleh semakin pendeknya jarak egress yang dapat
ditempuh oleh pengguna jalan.
Perpustakaan Digital ITB