digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sejak beberapa tahun terakhir, biaya kemacetan telah menjadi perhatian para pembuat kebijakan dan akademisi di berbagai bidang di seluruh dunia. Sistem pendanaan ini terbukti tidak hanya efektif dalam mengurangi tingkat kemacetan tetapi juga dalam menjaga kelestarian lingkungan perkotaan. Oleh karena itu, beberapa kota/negara mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menerapkan metode tersebut, terutama untuk kota yang bergantung pada mobil untuk mempromosikan sistem transportasi yang lebih baik. Untuk mengelola permintaan lalu lintas yang dinamis, maka perlu dikaji reaksi pengguna terhadap sistem biaya kemacetan untuk mengetahui perubahan perilaku apa saja yang mungkin terjadi sehingga dapat diantisipasi sebelum kebijakan tersebut diterapkan. Studi ini akan mengobservasi preferensi pengguna jalan di bawah penetapan harga kemacetan terhadap opsi kebijakan alternatif. Memanfaatkan survei SP dan PP, studi ini membuat model untuk menangkap respons perilaku perjalanan yang heterogen di bawah harga kemacetan. Selain itu, sebagai analisis lebih lanjut, studi ini juga menunjukkan kemungkinan perubahan perilaku perjalanan terhadap dua skema penetapan harga kemacetan yang berbeda yaitu cordon dan distance-based dan juga meneliti hubungannya dengan beberapa atribut termasuk harga, penghematan waktu dan jarak egress (jarak dari halte/stasiun terdekat ke lokasi destinasi). Survei ini melibatkan 1.846 perjalanan sebagai samples yang dilakukan oleh peserta terpilih yang secara teratur melewati Area CBD di kota Hiroshima dan kota Kumamoto yang berkendara secara teratur menggunakan mobil. Terdapat 6 alternatif pilihan yang diidentifikasikan sebagai reaksi dari penerapan biaya kemacetan antara lain 1) tetap membayar biaya; 2) tidak melakukan perjalanan; 3) mengganti zona waktu; 4) mengganti tujuan perjalanan; 5) mengganti moda transportasi; dan 6) mengganti rute perjalanan. Dalam pengembangan model, penelitian ini menggunakan metode Multinomial Logit (MNL). Model dikembangkan dengan melihat beberapa faktor yang dianggap mempengaruhi alternatif yaitu pendapatan, umur, tujuan perjalanan, penghematan waktu, harga kemacetan dan jarak egress sebagai variabel kebijakan. Selain itu, dalam penelitian ini dilakukan simulasi yang melibatkan atribut-atributiv seperti harga kemacetan, penghematan waktu dan perbaikan fasilitas trasnportasi umum yang direpresentasikan dengan pengurangan jarak egress. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa probabilitas perubahan perilaku perjalanan lebih sensitif terhadap perubahan harga daripada perubahan penghematan waktu atau perubahan jarak egress. Selain itu, Skema Cordon dan Distance-based menunjukkan perbedaan kinerja dalam mengurangi kemacetan di kawasan CBD secara spasial. Dikarenakan tujuan utama dari penetapan harga kemacetan adalah untuk mengurangi kemacetan di dalam kawasan CBD, maka skema berbasis jarak (Distance Based) lebih direkomendasikan untuk diterapkan di pusat area CBD. Selain itu, studi ini juga mempertimbangkan bahwa terdapat kemungkinan bahwa penerapan biaya kemacetan akan berdampak pada pengurangan jumlah kunjungan ke kawasan CBD. Oleh karena itu, dalam mempertahankan jumlah kunjungan ke kawasan CBD, studi ini menyimpulkan bahwa harga kemacetan akan lebih efektif jika diimbangi dengan peningakatn fasilitas angkutan umum yang memadai, yang dalam hal ini direpresentasikan oleh semakin pendeknya jarak egress yang dapat ditempuh oleh pengguna jalan.