digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 1 David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 2 David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 3 David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 4 David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

BAB 5 David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

DAFTAR David Aditama Winartha
Terbatas Yoninur Almira
» ITB

Dalam pengembangan fungsi kawasan perkotaan pada Pusat Kegiatan Nasional (PKN), diarahkan sebagai pusat permukiman dengan tingkat intensitas pemanfaatan ruang menengah hingga tinggi. Salah satu yang diatur dalam intensitas pemanfaatan ruang adalah intensitas bangunan. Semakin tinggi intensitas bangunan, maka akan semakin menambah bangkitan pergerakan sehingga mempengaruhi ruang kapasitas jalan yang tersedia. Intensitas bangunan di koridor Jalan Dr. Djunjunan Kota Bandung status jalannya merupakan jalan arteri primer di PKN Metro Bandung belum ditentukan berdasarkan kapasitas jalan yang tersedia. Ketentuan intensitas bangunan yang tinggi dapat menyebabkan turunnya tingkat pelayanan jalan. Studi ini bertujuan untuk menentukan intensitas bangunan sepanjang koridor Jalan Dr. Djunjunan Kota Bandung berdasarkan kapasitas jalannya, sebagai bentuk pengendalian pemanfaatan ruang (zoning) dan Transport Demand Management (TDM). Penelitian ini menggunakan kapasitas jalan (supply) sebagai konstrain, dan demand yang diatur adalah intensitas bangunan berupa Koefisien Lantai Bangunan (KLB). Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa KLB maksimum yang diterapkan dalam RDTR Kota Bandung, yang dalam Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Kota Bandung saat ini tidak sesuai dengan kapasitas jalan yang tersedia. Hal tersebut terlihat dari nilai Volume per Capacity Ratio (VCR) hasil simulasi penerapan KLB maksimum, yaitu sebesar 1,05 , sehingga kondisi koridor Jalan Dr. Djunjunan berada pada Level of Service (LOS) F yaitu dalam kondisi volume lalu lintas mendekati atau berada pada kapasitas arus tidak stabil, terkadang berhenti. Agar dapat ditampung oleh kapasitas jalan, intensitas bangunan yang diterapkan dalam RDTR Kota Bandung perlu ditinjau kembali untuk dilakukan penyesuian, yaitu KLB yang telah ditentukan perlu diturunkan.