Gempa bumi menimbulkan berbagai kerugian yang besar, baik itu dari segi materiil
ataupun korban jiwa. Gempa bumi Aceh, Yogyakarta, Padang, Lombok dan Palu
yang terjadi beberapa waktu yang lalu menambah riwayat bencana gempa bumi
yang menimbukan kerugian yang besar di Indonesia. Non-engineered building atau
bangunan yang tidak dibangun secara teknis memiliki kemungkinan terjadi
kerusakan hingga kehancuran yang lebih besar apabila terjadi gempa daripada
engineered building. Beberapa kategori bangunan sederhana yang sering terjadi
kerusakana antara lain berupa rumah tinggal, rumah toko dan fasilitas umum
sederhana (pendidikan dan kesehatan).
Perlu adanya peningkatan kemampuan pada industri konstruksi, baik dengan
meningkatkan kualitas pelaksana konstruksi ataupun membuat pedoman dengan
standar yang minimum (mudah dilakukan), khususnya sebagai solusi untuk
mengurangi non-engineered building sehingga kebutuhan terhadap desain struktur
tahan gempa terpenuhi. Perencanaan struktur tahan gempa memerlukan banyak
persyaratan analisis yang harus dipenuhi, sehingga prosedur perencanaannya sulit
dilakukan. Untuk itu, diperlukan alternatif prosedur yang lebih sederhana agar
kebutuhan terhadap pedoman atau prosedur yang minimum dapat terpenuhi.
Metode desain ini dihasilkan dari analisis terhadap beberapa pemodelan struktur.
Analisis dilakukan berdasakan ketentuan struktur tahan gempa sesuai Standar
Nasional Indonesia (SNI). Sehingga dengan menggunakan metode desain ini akan
memberikan tingkat kelayakan yang baik dalam memenuhi ketentuan struktur tahan
gempa. Kondisi analisis yang dilakukan pada metode ini meliputi analisi linier dan
non-linier, sehingga pemodelan dan analisis struktur dapat dinilai secara baik pada
kondisi tersebut. Berdasarkan studi komprehensif pada beberapa model struktur
maka didapatkan suatu pola modifikasi yang dibutuhkan agar desain struktur
memenuhi standar analisis berdasarkan ketentuan struktur tahan gempa. Pola
modifikasi inilah yang akan menjadi alternatif terhadap persyaratan struktur tahan
gempa itu sendiri. Penggunaan spreadsheet yang cukup popular dan mudah diakses
akan menjadi pilihan dalam melakukan desain dengan metode ini.
Struktur sederhana yang biasanya dilaksanakan tanpa memenuhi ketentuan teknis
atau non-engineered building merupakan fokus pada studi ini. Berdasarkan hal
tersebut maka model struktur yang diizinkan digunakan pada metode ini akan
berfokus pada kasus-kasus struktur sederhana. Sedangkan untuk menverifikasi
kondisi kondisi tersebut, maka akan menggunakan beberap batasan batasan.
Batasan-batasan tersebut adalah berupa bentuk struktur, kondisi gempa lokasi,
fungsi bangunan, sistem struktur dan juga kondisi fondasi. Untuk struktur diluar
kondisi batasan tersebut maka tidak diakomodasi oleh metode desain ini.
Tahapan umum metode desain ini terbagi menjadi tahap desain pendahuluan dan
modifikasi penampang elemen berdasarkan kondisi struktur. Tahap desain
pendahuluan meiliput desain pendahuluan terhadap bentang struktur, pendekatan
gaya berdasarkan beban gravitasi dan penyesuaian terhadap syarat penulangan
khusus (sistem rangka pemikul momen khusus). Sedangkan untuk tahap modifikasi
sendiri akan menyesuaikan terhadap kondisi bentuk struktur.
Setelah dilakukan analisis dan evaluasi terhadap pemodelan struktur yang
dilakukan pada studi ini, maka didapatkan kondisi-kondisi yang harus terpenuhi.
Hasil evaluasi kelayakan pada beberapa model yang dilakukan pada studi ini
menunjukkan bahwa metode ini cukup baik digunakan untuk struktur hingga 3
lantai dengan 2-4 bentang. Sedangkan untuk struktur dengan jumlah lantai dan
bentang yang lebih banyak dibutuhkan penambahan kekakuan struktur dengan cara
menambah luasan penampang elemen kolom struktur berdasarkan hasil pada tahap
desain pendahuluan pada metode desain ini.
Perpustakaan Digital ITB