COVER Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 1 Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Joevin Saudalimka
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas  Alice Diniarti
» Gedung UPT Perpustakaan
Bioetanol generasi kedua adalah etanol yang dihasilkan dengan memanfaatkan limbah pertanian. Limbah pertanian mengandung selulosa, polimer dari glukosa, yang harus dihidrolisis terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai substrat dalam fermentasi produksi bioetanol. Enzim yang berperan dalam proses hidrolisis ini adalah enzim selulase. Biaya produksi enzim selulase yang mahal menjadi kendala utama dalam proses produksi bioetanol generasi kedua. Salah satu penyebab tingginya biaya produksi enzim adalah enzim komersial yang masih diproduksi dengan metode fermentasi fasa terendam (SmF). Meskipun metode SmF memiliki kemudahan dalam pengendalian kondisi operasi, proses pemurniannya yang kompleks mengakibatkan tingginya biaya di proses hilir. Alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah penggunaan metode fermentasi fasa padat (SSF) untuk produksi selulase, yang mana memiliki proses hilir yang lebih sederhana.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas enzim selulase curah yang dihasilkan dengan metode SSF. Enzim selulase diproduksi dengan menggunakan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebagai sumber karbon, nutrien Mandels, dan fungi Trichoderma viride. Fermentasi dilakukan di dalam erlenmeyer berukuran 250 ml. Variasi percobaan yang dilakukan dalam penelitian ini, meliputi variasi konsentrasi glukosa (0,003 g, 0,006 g, 0,009 g), konsentrasi Tween 80 (1%, 2%, 3%), dan kondisi ekstraksi (solid to liquid ratio dan jumlah tahap ekstraksi). Hasil percobaan menunjukkan bahwa aktivitas enzim selulase dapat ditingkatkan dengan menambahkan glukosa dalam jumlah tertentu ke dalam medium fermentasi dan meningkatkan perbandingan solid to liquid ratio untuk proses ekstraksi enzim. Sebaliknya, variasi penambahan Tween 80 dan jumlah tahap ekstraksi tidak memberikan efek yang signifikan terhadap peningkatan aktivitas enzim selulase. Di samping itu, konsentrasi Tween 80 dan glukosa yang terlalu tinggi di dalam medium fermentasi dapat menyebabkan penurunan aktivitas enzim selulase.
Perpustakaan Digital ITB