Kulit merupakan bagian tubuh yang sering terpapar oleh sinar UV. Paparan sinar UV dapat
menginduksi terbentuknya radikal bebas dalam kulit yang dikenal sebagai Reactive Oxygen Species
(ROS). Pada kulit terdapat senyawa yang bersifat sebagai antioksidan untuk melindungi dari
terbentuknya radikal bebas oleh sinar UV, seperti koenzim Q10. Koenzim Q10 berperan penting dalam
mengurangi radikal ROS yang terbentuk dalam kulit. Koenzim Q10 di dalam tubuh akan direduksi
menjadi ubiquinol yang dapat berperan dalam menetralkan radikal bebas. Namun, jumlah senyawa
ini pada kulit menurun seiring dengan bertambahnya usia. Hal tersebut yang menjadi salah satu
penyebab terjadinya efek penuaan pada kulit. Usaha peningkatan konsentrasi koenzim Q10 dapat
dilakukan dengan memformulasikan senyawa tersebut ke dalam sistem penghantaran pada kulit. Sifat
koenzim Q10 yang lipofil menyebabkan sulitnya penetrasi ke jaringan kulit. Maka, digunakan sistem
penghantaran berukuran nano untuk dapat meningkatkan penetrasi senyawa ke dalam kulit, yaitu
nanoemulsi. Pada penelitian ini dilakukan optimasi terhadap formula terhadap kombinasi surfaktan
dan kosurfaktan, serta konsentrasi minyak yang digunakan. Optimasi juga dilakukan pada proses
pembuatan nanoemulsi, seperti kecepatan dan lama pengadukan, serta lama sonikasi dan amplitudo
pada sonikator. Uji antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH dengan Vitamin C
sebagai pembanding untuk mengetahui besarnya aktivitas antioksidan dari Koenzim Q10. Uji penetrasi
dilakukan secara in-vitro melalui metode difusi Franz menggunakan membran kulit ular. Hasil dari
percobaan memberikan formulasi yang optimal, yaitu Tween 80 (15%), VCO / Virgin Coconut Oil (5%),
koenzim Q10 (0,5%), dan akuades (79,5%). Hasil uji penetrasi menunjukkan bahwa sediaan
nanoemulsi dapat meningkatkan penetrasi ke dalam kulit.
Perpustakaan Digital ITB