Ekstrak beras ketan hitam (EKH; Oryza sativa var. glutinosa Blanco) diketahui
kaya akan senyawa bioaktif, terutama polifenol, flavonoid, dan antosianin, yang
berperan sebagai antioksidan dan memiliki potensi hepatoprotektif. Namun,
keterbatasan kelarutan air, stabilitas, dan bioavailabilitas oral menjadi kendala
utama dalam pengembangan ekstrak ini sebagai produk nutrasetikal. Penelitian ini
bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem penghantaran berbasis
Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) dan bentuk padatnya
(Solid-SNEDDS/S-SNEDDS) guna meningkatkan kinerja biofarmasetika dan
efektivitas hepatoprotektif ekstrak ketan hitam. Ekstrak diperoleh melalui metode
maserasi etanol dan dilakukan metabolite profiling menggunakan Ultra
Performance Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry (UPLC-
MS/MS), yang mengidentifikasi sianidin-3-o-glukosida (13,87 ± 0,12 mg/g) dan
kuersetin (24,10 ± 1,34 mg/g) sebagai senyawa penanda utama. Formulasi
SNEDDS dikembangkan menggunakan minyak jagung, Tween® 80, dan propilen
glikol, kemudian dioptimalkan melalui diagram fase pseudoternary dan
disolidifikasi dengan Neusilin® US2 untuk menghasilkan S-SNEDDS.
Karakterisasi meliputi ukuran droplet, waktu emulsifikasi, potensial zeta, stabilitas
termodinamik, serta analisis fisikokimia menggunakan TEM, SEM, FTIR, DSC,
dan XRD. Hasil menunjukkan bahwa SNEDDS menghasilkan nanoemulsi dengan
ukuran droplet sekitar 15 nm, emulsifikasi cepat, dan peningkatan kelarutan serta
laju disolusi pada berbagai kondisi pH (1,2; 4,5; dan 6,8). Aktivitas antioksidan
meningkat secara signifikan pada formulasi SNEDDS-EKH (IC??32,6 ????g/mL)
dibandingkan EKH (IC??47,4 ????g/mL). Evaluasi in vivo pada model cedera hati
yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl?) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH
pada dosis 100 dan 200 mg/kg BB secara signifikan menurunkan kadar ALT, AST,
ALP, GGT, dan bilirubin total, serta menormalkan kadar albumin. Pemeriksaan
histopatologi mengonfirmasi perbaikan struktur jaringan hati melalui penurunan
nekrosis hepatosit dan infiltrasi inflamasi. Studi biodistribusi in vivo dan ex vivo
menggunakan In Vivo Imaging System (IVIS) dan Ex Vivo Imaging System (EVIS)
menunjukkan bahwa SNEDDS EKH terdistribusi secara cepat dan selektif ke
jaringan hati setelah pemberian oral, dengan intensitas sinyal fluoresens tertinggi
pada fase awal dan penurunan progresif seiring waktu. Pola biodistribusi ini
mengkonfirmasi sifat hepatoselektif sistem SNEDDS tanpa adanya akumulasi
persisten pada organ nontarget, sehingga mendukung aspek keamanan sistem
penghantaran. Secara keseluruhan, integrasi standarisasi ekstrak, formulasi
SNEDDS dan S-SNEDDS, serta evaluasi aktivitas hepatoprotektif dan biodistribusi
in vivo-ex vivo membuktikan bahwa sistem SNEDDS merupakan pendekatan yang
efektif dan rasional untuk meningkatkan bioavailabilitas, efikasi, dan keamanan
ekstrak ketan hitam sebagai kandidat nutrasetikal hepatoprotektif berbasis
teknologi nano.
Perpustakaan Digital ITB