digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ekstrak beras ketan hitam (EKH; Oryza sativa var. glutinosa Blanco) diketahui kaya akan senyawa bioaktif, terutama polifenol, flavonoid, dan antosianin, yang berperan sebagai antioksidan dan memiliki potensi hepatoprotektif. Namun, keterbatasan kelarutan air, stabilitas, dan bioavailabilitas oral menjadi kendala utama dalam pengembangan ekstrak ini sebagai produk nutrasetikal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi sistem penghantaran berbasis Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System (SNEDDS) dan bentuk padatnya (Solid-SNEDDS/S-SNEDDS) guna meningkatkan kinerja biofarmasetika dan efektivitas hepatoprotektif ekstrak ketan hitam. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi etanol dan dilakukan metabolite profiling menggunakan Ultra Performance Liquid Chromatography Tandem Mass Spectrometry (UPLC- MS/MS), yang mengidentifikasi sianidin-3-o-glukosida (13,87 ± 0,12 mg/g) dan kuersetin (24,10 ± 1,34 mg/g) sebagai senyawa penanda utama. Formulasi SNEDDS dikembangkan menggunakan minyak jagung, Tween® 80, dan propilen glikol, kemudian dioptimalkan melalui diagram fase pseudoternary dan disolidifikasi dengan Neusilin® US2 untuk menghasilkan S-SNEDDS. Karakterisasi meliputi ukuran droplet, waktu emulsifikasi, potensial zeta, stabilitas termodinamik, serta analisis fisikokimia menggunakan TEM, SEM, FTIR, DSC, dan XRD. Hasil menunjukkan bahwa SNEDDS menghasilkan nanoemulsi dengan ukuran droplet sekitar 15 nm, emulsifikasi cepat, dan peningkatan kelarutan serta laju disolusi pada berbagai kondisi pH (1,2; 4,5; dan 6,8). Aktivitas antioksidan meningkat secara signifikan pada formulasi SNEDDS-EKH (IC??32,6 ????g/mL) dibandingkan EKH (IC??47,4 ????g/mL). Evaluasi in vivo pada model cedera hati yang diinduksi karbon tetraklorida (CCl?) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH pada dosis 100 dan 200 mg/kg BB secara signifikan menurunkan kadar ALT, AST, ALP, GGT, dan bilirubin total, serta menormalkan kadar albumin. Pemeriksaan histopatologi mengonfirmasi perbaikan struktur jaringan hati melalui penurunan nekrosis hepatosit dan infiltrasi inflamasi. Studi biodistribusi in vivo dan ex vivo menggunakan In Vivo Imaging System (IVIS) dan Ex Vivo Imaging System (EVIS) menunjukkan bahwa SNEDDS EKH terdistribusi secara cepat dan selektif ke jaringan hati setelah pemberian oral, dengan intensitas sinyal fluoresens tertinggi pada fase awal dan penurunan progresif seiring waktu. Pola biodistribusi ini mengkonfirmasi sifat hepatoselektif sistem SNEDDS tanpa adanya akumulasi persisten pada organ nontarget, sehingga mendukung aspek keamanan sistem penghantaran. Secara keseluruhan, integrasi standarisasi ekstrak, formulasi SNEDDS dan S-SNEDDS, serta evaluasi aktivitas hepatoprotektif dan biodistribusi in vivo-ex vivo membuktikan bahwa sistem SNEDDS merupakan pendekatan yang efektif dan rasional untuk meningkatkan bioavailabilitas, efikasi, dan keamanan ekstrak ketan hitam sebagai kandidat nutrasetikal hepatoprotektif berbasis teknologi nano.