Article Details

ANALISIS KERENTANAN LONGSORAN DI SEKITAR PERENCANAAN BENDUNGAN PELOSIKA, SULAWESI TENGGARA

Oleh   Indri Andina [12018049]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Asep Heri Patria Kesumajana, M.T.;Dr. Rendy Dwi Kartiko, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
Subjek :
Kata Kunci : Bendungan Pelosika, faktor keamanan, kestabilan lereng tak hingga, TRIGRS
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan   Irwan Sofiyan
File : 1 file
Tanggal Input : 21 Sep 2022

Lokasi perencanaan Bendungan Pelosika secara administratif terletak di dua Kabupaten yaitu Kabupaten Konawe dan Kabupaten Kolaka Timur, Provinsi Sulawesi Tenggara dengan luas area penelitian 1,75 km2. Terdapat dua lokasi perencanaan pembangunan bendungan, yaitu alternatif satu atau upper dam dan alternatif dua atau lower dam. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan zona kerentanan longsoran berdasarkan properti sifat fisik mekanik tanah, kemiringan lereng, elevasi, curah hujan, kedalaman muka air tanah, dan titik kejadian longsor. Daerah penelitian berada pada elevasi 50-300 m dengan sudut kemiringan lereng 0-62°. Tanah di daerah penelitian dibagi menjadi tiga zona yaitu zona tanah residual, tanah endapan koluvial, dan tanah endapan aluvial. Pemodelan kerentanan longsoran dilakukan dengan menggunakan analisis deterministik kestabilan lereng tak hingga menggunakan program TRIGRS (Transient Rainfall Infiltration and Grid-based Regional Slope Stability). Pemodelan kerentanan longsoran dilakukan dengan menggunakan data curah hujan pada bulan Juni tahun 2019. Berdasarkan hasil pemodelan, zona kerentanan longsoran dibagi menjadi empat zona yaitu zona kerentanan tinggi, zona kerentanan menengah, zona kerentanan rendah, dan zona kerentanan sangat rendah. Zona kerentanan tinggi berada di sebelah timur laut, barat laut, dan tenggara dari lower dam, serta di sebelah sebelah barat laut, barat daya, dan selatan dari upper dam. Analisis perubahan nilai faktor keamanan (FK) dilakukan pada enam zona kritis yang memiliki nilai FK < 1,2. Berdasarkan analisis perubahan nilai FK, penurunan FK paling besar yaitu pada area enam yaitu 0,444.