Article Details

STUDI EFEK, MEKANISME KERJA, DAN KEAMANAN EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH MANGGIS (GARCINIA MANGOSTANA L.) SEBAGAI ANTIDIABETES MELITUS

Oleh   Rifa'atul Mahmudah [30718305]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. apt. I Ketut Adnyana, M.Si., Ph.D. ; Prof. Dr. Elin Yulinah;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi
Subjek :
Kata Kunci : Diabetes melitus, Garcinia mangostana L., ?-mangostin, ?-mangostin, xanton, Ekstak Etanol Kulit Buah Manggis (EEKM).
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 19 Sep 2022

Kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) adalah salah satu obat tradisional yang memiliki efek antihiperglikemia. Bahan ini mudah ditemukan di Indonesia dan telah banyak dimanfaatkan oleh masyarakat. Senyawa ?-mangostin, ?mangostin, dan xanton yang terdapat di dalam kulit buah manggis digunakan sebagai marker. Penelitian ini betujuan untuk meneliti efek, mekanisme kerja, keamanan, serta menetapkan standarisasi mutu ekstrak etanol kulit buah manggis (EEKM). EEKM yang digunakan dalam penelitian diperoleh dari PT.Borobudur dan merupakan ekstrak hasil maserasi menggunakan pelarut etanol 70% dengan penambahan Maltodextrin sebagai pengisi. Tahapan penelitian meliputi uji efek, mekanisme kerja, dan keamanan EEKM secara in silico dan in vivo, serta standarisasi mutu ekstrak dan analisis kandungan senyawa marker (?-mangostin, ?mangostin, dan xanton). Studi molecular docking menunjukkan bahwa ligan ?-mangostin, ?-mangostin, dan xanton dapat berikatan dengan reseptor/enzim GLUT-4, PPAR-?, DPP-4, aldosa reductase, GLP-1, GSK-3?, GSK-3? , CD-4, dan SGLT-2 yang ditunjukkan dengan nilai afinitas ikatan yang sebanding dengan ligan pembanding, yakni obat yang memiliki target yang sama. Sementara itu, berdasarkan analisis molecular dynamic pada reseptor SGLT-2, ?-mangostin menunjukkan stabilitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan ?-mangostin dan xanton serta menunjukkan peran tertinggi dalam mengikat reseptor SGLT-2. Hasil uji in vivo pada tikus yang diinduksi diet tinggi lemak (HFD) dan Streptozotocin 35 mg/kg menunjukkan bahwa pemberian masing-masing dosis EEKM (100 mg/kgbb tikus, 200 mg/kgbb tikus, dan 400 mg/kgbb tikus) memberikan efek terhadap penurunan kadar glukosa darah dan efek paling baik ditunjukkan oleh pemberian EEKM dosis 400 mg/kgbb tikus. Pengamatan ekspresi gen SGLT-2 pada ginjal melalui metode RT-qPCR menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) antara kelompok EEKM 200 dan 400 mg/kg bb tikus dibandingkan dengan kelompok kontrol, dan tidak terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kelompok Empagliflozin. Serum darah hewan yang dianalisis dengan metode ELISA dan menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) pada peningkatan GLUT-4 antara kelompok kontrol (Na.CMC 0,3%) dibandingkan dengan kelompok EEKM 200 dan 400 mg/kg. Sedangkan hasil analisis peningkatan PPAR-? dan penurunan SGLT-2 menunjukkan perbedaan bermakna (p<0,05) antara kelompok kontrol (Na.CMC 0,3%) dibandingkan semua kelompok EEKM (100, 200, 400 mg /kg bb tikus). Hasil serupa juga ditunjukkan oleh obat pembanding (Empagliflozin, Pioglitazon, dan Metformin). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa EEKM pada dosis tertentu dapat memiliki efek sebagai antidiabetes melitus melalui mekanisme kerja peningkatan ekspresi GLUT-4 dan PPAR-?, serta penurunan ekspresi SGLT-2. Hasil uji keamanan menggunakan uji toksisitas virtual, Protox-II Web Server memperkirakan bahwa ?-mangostin dengan LD50 kelas 5, tidak menunjukkan efek toksik pada semua parameter uji (hepatotoksik, karsinogenik, imunotoksik, mutagenik, dan sitotoksik). Oleh karena itu, diperkirakan senyawa ini merupakan senyawa yang paling aman dalam EEKM, dibandingkan dengan ?-mangostin dan xanton, yang hanya toksisitas kelas 4 dan menunjukkan efek toksik pada beberapa organ. Selanjutnya uji toksisitas kronis selama 6 bulan pada ekstrak kulit buah manggis (Garcinia mangostana L.) tidak menunjukkan perbedaan perilaku dan mortalitas hewan uji. Selain itu, EEKM pada semua dosis uji tidak menunjukkan perbedaan bermakna dibandingkan dengan kelompok kontrol (Na.CMC 0,3%), serta antar kelompok ditinjau dari parameter bobot badan, hematologi, dan bobot organ. Namun melalui pengamatan biokimia, terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antara kelompok kontrol (Na.CMC 0,3%) dibandingkan dengan kelompok EEKM dosis 200 dan 400 mg/kg bb tikus pada parameter GOT tikus jantan dan betina, Serta pada parameter trigliserida dan kreatinin pada pemberian EEKM pada 400 mg/kg bb tikus jantan. Hal ini juga terlihat pada pengamatan histologis yang menunjukkan kelainan hati saat EEKM diberikan dengan dosis 200 mg/kg bb tikus pada tikus betina dan 400 mg/kg bb pada tikus jantan dan betina. Kelainan organ juga terjadi pada pengamatan histologi ginjal tikus jantan yang diberikan EEKM 400 mg/kg bb tikus. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa EEKM dengan dosis 100 mg/kg bb tikus adalah dosis yang paling sesuai untuk penggunaan jangka panjang (6 bulan). Berdasarkan hasil pengujian analisis mutu esktrak, EEKM yang digunakan dalam penelitian ditemukan memenuhi standarisasi parameter spesifik dan non-spesifik. Ekstrak tersebut mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan triterpenoid. Kandungan senyawa ?-mangostin, ?-mangostin, dan xanton yang diamati dengan HPLC berturut-turut adalah 19,88%, 16,15%, dan 7,66%. Nilai Rf dan spektrum masing-masing senyawa marker tersebut hampir mirip dengan komponen EEKM, berdasarkan TLC-densitometri.