Article Details

POTENSI ENERGI ARUS PASANG SURUT DI SELAT PANTAR, NUSA TENGGARA TIMUR

Oleh   Theresia Adies Oktavianti [12917031]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr.Eng. Nining Sari Ningsih, M.S.;Dr.Eng. Totok Suprijo, S.Si.;Dr. Ayi Tarya, S.Si., M.Si.;;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Oseanografi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : arus pasang surut, daya listrik, waktu operasional turbin, Sabella D10, Delft3D, Selat Pantar.
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 23 Jun 2022

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah yang tergolong memiliki rasio elektrifikasi terendah di Indonesia sebesar 58,64% per tahun 2017. Penelitian mengenai potensi energi terbarukan sebagai sumber daya listrik, terutama yang berasal dari laut perlu dilakukan mengingat luasnya perairan di provinsi tersebut. Pada penelitian ini, dilakukan estimasi potensi daya listrik yang dihasilkan arus pasang surut di Selat Pantar (8,128oLS-8,535oLS dan 124,193oBT-124,567oBT), NTT. Nilai daya listrik dihitung dari kecepatan arus hasil simulasi model hidrodinamika dua dimensi (2D) Delft3D dengan gaya pembangkit pasang surut. Hasil model tersebut dianalisis selama satu bulan (1-29 Oktober 2020). Analisis estimasi daya listrik dilakukan dengan menghitung daya listrik rata-rata bulanan dan waktu operasional dari turbin Sabella D10 selama satu bulan, satu hari saat purnama, dan satu hari saat perbani dengan cut-in speed 0,5 m/s dan rated speed 4 m/s. Efisiensi dari turbin Sabella D10 sebesar 0,45 memenuhi Betz limit (0,59). Berdasarkan cut-in speed 0,5 m/s dan kedalaman batimetri sedangkal mungkin (40- 100 m), diperoleh tiga lokasi potensial sebagai pembangkit listrik tenaga arus, yaitu: Lokasi 1 (Pulau Pantar-Pura), Lokasi 2 (Pulau Ternate), dan Lokasi 3 (Pulau Nuhakepa). Daya listrik teknis rata-rata bulanan yang dihasilkan oleh turbin di ketiga lokasi tersebut adalah 618 kW (Lokasi 1), 32 kW (Lokasi 2), dan 64 kW (Lokasi 3). Selanjutnya, pada ketiga lokasi tersebut terdapat lima stasiun potensial yang memiliki rapat daya listrik tinggi dan jaraknya paling dekat dengan garis pantai (0,1-0,2 km), yaitu Stasiun P1, P2, P3 (Lokasi 1), T1 (Lokasi 2), dan A1 (Lokasi 3). Waktu operasional turbin selama satu bulan serta satu hari saat purnama dan perbani di Stasiun P1 (610 jam; 21 jam; 9 jam), P2 (609 jam; 19 jam; 11 jam), P3 (598 jam; 21 jam; 4 jam), T1 (307 jam; 16 jam; 2 jam), dan A1 (362 jam; 20 jam; 0 jam). Sementara itu, daya listrik teknis yang dihasilkan turbin selama satu bulan serta satu hari saat purnama dan perbani adalah: P1 (93.171 kW; 6.204 kW; 118 kW), P2 (73.276 kW; 5.054 kW; 68 kW), P3 (82.654 kW; 5.685 kW; 137 kW), T1 (7.009 kW; 2.235 kW; 18 kW), dan A1 (10.668 kW; 889 kW; 0 kW). Total daya listrik teknis di Stasiun P1, P2, P3, T1, dan A1 sebesar 266.778 kW dapat memenuhi kebutuhan listrik 31,2% dari 13.792 keluarga dalam satu bulan.