Article Details

ANALISIS POLA KEPATUHAN MASYARAKAT PADA PROTOKOL KESEHATAN DI MASA PANDEMI COVID – 19 SEBELUM DAN SESUDAH PPKM MELALUI KORELASI SPEARMAN

Oleh   Shidqi Hanarizki Decaesar [10117038]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Udjianna Sekteria Pasaribu, Ph.D.;Dr. RR. Kurnia Novita Sari, S.Si., M.Si.;Yuli Sri Afrianti, S.Si., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FMIPA - Matematika
Fakultas : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA)
Subjek :
Kata Kunci : PPKM, pola kepatuhan, Korelasi Spearman
Sumber :
Staf Input/Edit : Dwi Ary Fuziastuti  
File : 1 file
Tanggal Input : 28 Mar 2022

Pola kenaikan kasus COVID 19 yang terus meningkat dari Juni – Desember 2020 membuat Pemerintah Indonesia perlu melakukan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) yang sejak 11 Januari 2021. Hal ini betujuan untuk menaikkan tingkat kepatuhan masyarakat guna menekan kenaikan kasus COVID 19 di Indonesia. Berdasarkan hal tersebut, tugas akhir ini akan melakukan analisis pola tingkat kepatuhan pada protokol kesehatan sebelum PPKM (11 Desember 2020 – 10 Januari 2021) dan sesudah PPKM (11 Januari 2021 – 10 Februari 2021). Kota Bandung memiliki pola kenaikan kasus yang mirip dengan Indonesia sehingga dipilih untuk studi kasus. Pemerintah kota Bandung memantau kepatuhan masyarakat yang direpresentasikan oleh lokasi -lokasi. Kepatuhan ini terdiri dari 14 protokol kesehatan yang dicatat sebagai “0” berarti tidak patuh dan “1” berarti patuh. Protokol - protokol tersebut dibagi menjadi 3 kategori berdasarkan pelakasananya, yaitu A(Individu), B(Pengelolas Fasilitas), dan C(Pengelola Sistem). Analisis pola tingkat kepatuhan ini akan dilakukan melalui korelasi Spearman sehingga memerlukan data dalam skala ordinal atau rasio. Berdasarkan hal tersebut, dilakukan konversi data dari skala nominal ke ordinal. Skala ordinal dibuat menjadi 4 level dengan 1 merepresentasikan sangat tidak patuh sampai 4 sangat patuh. Dari 8 SWK (Sub Wilayah Kota), dipilih 7 SWK yang dipandang sebagai observasi. Melalui statistika deskriptifnya, diperoleh bahwa SWK Ujung Berung mengalami penurunan kepatuhan setelah PPKM, sedangkan SWK Tegalega sebaliknya. Pada periode yang sama, distribusi tingkat kepatuhan SWK lainnya lebih menyebar. Sedangkan pola kepatuhan pada 14 kategori protokol kesehatan terjadi perubahan pada pola kenaikan kepatuhan yang dimana sesudah PPKM kenaikan pola kepatuhan pada kategori fasilitas dan sistem dengan kategori individu mengalami penurunan. Berdasarkan hasil analisis melalui interval kepercayaan koefisien korelasi pada kedua periode dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan PPKM berpengaruh terhadap sebaran tingkat kepatuhan protokol kesehatan tetapi tidak berpengaruh terhadap korelasi antar protokol.