Article Details

STUDI EVALUASI KINERJA HIJAU TEPAT GUNA LAHAN APARTEMEN KELAS MURAH DAN MENENGAH DI KOTA BANDUNG

Oleh   Hanan Marta Lina [25220019]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dewi Larasati, S.T., M.T., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek :
Kata Kunci : apartemen kelas murah dan menengah, kinerja hijau, Kota Bandung, tapak berkelanjutan, tepat guna lahan
Sumber :
Staf Input/Edit : Perpustakaan Prodi Arsitektur  
File : 1 file
Tanggal Input : 2021-12-28 09:08:15

Peningkatan populasi penduduk di kawasan perkotaan mengakibatkan peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal. Dengan ketersediaan lahan perkotaan yang semakin terbatas, maka kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui pembangunan hunian vertikal. Apartemen kelas murah dan menengah menjadi golongan apartemen yang paling diminati karena sesuai dengan kemampuan ekonomi dari mayoritas masyarakat. Dengan demikian, pembangunan apartemen kelas murah dan menengah di Indonesia akan terus berkembang dan salah satunya terjadi di Kota Bandung. Namun, perkembangan pembangunan apartemen ini bisa memberikan dampak yang buruk pada lingkungan. Untuk mengurangi dampak tersebut, diperlukan pembangunan yang mengacu kepada pembangunan berkelanjutan, termasuk dalam pengembangan tapak bangunan. Saat ini, masih banyak perancang yang mengabaikan isu-isu pengembangan tapak bangunan. Penerapan kriteria pengembangan tapak berkelanjutan seperti yang terdapat dalam kategori tepat guna lahan bangunan hijau pun perlu ditingkatkan. Penelitian yang mengevaluasi pengelolaan tapak berdasarkan kriteria tepat guna lahan sudah pernah dilakukan. Namun, belum pernah dilakukan penelitian serupa yang membahas pengelolaan tapak pada apartemen kelas murah dan menengah di Kota Bandung. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja hijau tepat guna lahan pada apartemen kelas murah dan menengah yang ada di Kota Bandung serta mengidentifikasi kelemahan, kelebihan, dan potensi perbaikan dari pengembangan tapak yang ada. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui studi literatur, observasi lapangan, dokumentasi foto, dan kuesioner daring. Sampel penelitian dipilih menggunakan metode nonrandom/purposive sampling. Penelitian ini dimulai dengan mengidentifikasi kriteria penilaian tepat guna lahan melalui kajian literatur. Tahap kedua penelitian ialah mengumpulkan data eksisting tapak apartemen kelas murah dan menengah melalui kajian literatur, observasi lapangan, dan dokumentasi foto. Selanjutnya, dilakukan analisis kinerja hijau tepat guna lahan melalui total poin pemenuhan yang diperoleh. Tahap ketiga terbagi menjadi 3 bagian. Tahap 3A, yakni melakukan studi literatur untuk mengetahui keberadaan regulasi yang mendukung pemenuhan kriteria tepat guna lahan. Tahap 3B adalah menyebarkan kuesioner kepada perancang untuk mengetahui pengetahuan dan persepsinya terhadap kemudahan penerapan kriteria tepat guna lahan. Terakhir, dilakukan analisis terkait kelebihan, kelemahan, dan potensi perbaikan berdasarkan kinerja hijau tepat guna lahan yang ada, keberadaan regulasi, dan persepsi perancang. Hasil penelitian menemukan bahwa kinerja hijau tepat guna lahan dari apartemen kelas murah dan menengah di Kota Bandung masih rendah. Kinerja tersebut tidak dipengaruhi oleh harga jual apartemen. Lalu, masih sedikit regulasi yang mendukung penerapan kriteria tepat guna lahan. Sebagian besar kriteria dianggap mudah diterapkan oleh sebagian besar perancang. Kelemahan dari pengembangan tapak yang ada berkaitan dengan penyediaan area hijau, pemilihan lokasi tapak, sirkulasi tapak, fasilitas pejalan kaki dan pengguna sepeda, nilai albedo non atap, serta manajemen limpasan air hujan. Sementara, kelebihan yang dimiliki oleh tapak apartemen ini berkaitan dengan pemenuhan fasilitas umum serta sarana dan prasarana, aksesibilitas lantai dasar, dan nilai albedo area atap. Perlu dilakukan sejumlah perbaikan yang meliputi perbaikan dari perancang, pengelola apartemen, pemerintah daerah, serta penyesuaian kriteria penilaian tepat guna lahan itu sendiri.