Article Details

PERANCANGAN JALAN REL DAN OPERASIONAL LIGHT RAIL TRANSIT (LRT) JAKARTA KORIDOR TIMUR – BARAT

Oleh   Syifa Maudini Nurtyas [15016059]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Harun Al Rasyid S. Lubis, M.Sc., Ph.D.
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Teknik Sipil
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek :
Kata Kunci : Light Rail Transit, kereta, trase, stasiun, geometri jalan rel, komponen jalan rel, operasional kereta, emplasemen
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-09-16 09:52:11

Generic placeholder image
ABSTRAK Syifa Maudini Nurtyas

Terbatas
» ITB


Light Rail Transit (LRT) Jakarta Koridor Timur-Barat merupakan salah satu koridor yang direkomendasikan dalam jaringan jalur kereta api DKI Jakarta tahun 2019-2039. Koridor ini direncanakan untuk mengakomodasi pergerakan penumpang dari daerah DKI Jakarta yang berbatasan dengan Kota Bekasi (Pulo Gebang) dan Kota Tangerang (Joglo). Pembangunan koridor ini dibagi menjadi 2 tahap yaitu Tahap I (Pulo Gebang-Karet) sepanjang 20,6 km dan Tahap II (Karet- Joglo III) sepanjang 12,35 km. Pada Tugas Akhir ini, akan didesain jalan rel layang yang difokuskan pada Tahap I yang terdiri dari 12 stasiun dan 1 stasiun yang tergabung dengan dipo. Perancangan dalam Tugas Akhir Desain ini dilakukan dengan menganalisis hasil pengolahan data sekunder seperti peta/citra satelit Google Earth, jumlah permintaan penumpang (tahun 2023-2063), dan spesifikasi sarana LRT yang digunakan. Hasil analisis tersebut kemudian digunakan dalam perancangan geometri jalan rel, komponen jalan rel, operasional kereta, dan emplasemen stasiun yang mengacu pada standar yang berlaku. Perancangan geometri rel dikhususkan untuk segmen Dipo-Buaran II dengan trase sepanjang 8,57 km, jari-jari terkecil sebesar 200 m, serta pada elevasi 17 m hingga 23 m. Kemudian, dengan daya angkut lintas 14.303.520 ton/tahun pada tahun 2063, jalan rel dengan lebar sepur 1435 mm tergolong ke dalam kelas jalan rel II dan rel yang digunakan adalah rel R-60. Komponen jalan rel LRT ini menggunakan sistem direct fixation tanpa komponen balas dengan sambungan rel berupa pengelasan, penambat rel jenis Pandrol E-Clip, dan bantalan rel berupa concrete plinth bertulang. Sementara itu, perancangan operasional dilakukan untuk seluruh Tahap I (Dipo- Karet) di mana pada awal tahun operasional (tahun 2023), dengan demand sebanyak 47.896 penumpang/KA/hari dibutuhkan 8 rangkaian yang terdiri dari 2 kereta yang akan beroperasi selama 18 jam/hari dengan headway 12,56 menit. Emplasemen stasiun ujung terdiri dari 2 jalur naik-turun penumpang, peron sepanjang 105 meter dan lebar 6,5 meter pada masing-masing jalur, dan wesel jenis W-12 dengan persilangan.