Article Details

Pengaruh Jumlah Sumur Terhadap Keekonomian Lapangan Panas Bumi Dominasi Air di Indonesia

Oleh   Ibrahim Abdus Salam [12214087]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dimas Taha Maulana, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FTTM - Teknik Perminyakan
Fakultas : Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
Subjek :
Kata Kunci : lapangan dominasi air, pembangkit, keekonomian proyek
Sumber :
Staf Input/Edit : Suharsiyah  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-12-10 14:10:40

Generic placeholder image
2018 TA PP IBRAHIM ABDUS SALAM 1.pdf?

Terbatas
» Gedung UPT Perpustakaan


Indonesia mempunyai reserve panas bumi tertinggi di dunia yang bernilai 28,5 GW dari total potensi sumber daya dan cadangan. Pada tahun 2025 pemerintah Indonesia menetapkan target kapasitas terpasang sebesar 7.242 MW, setelah sebelumnya di tahun 2016 Indonesia memiliki kapasitas terpasang sebesar 1.375 MW. Salah satu tantangan untuk mencapai target tersebut adalah untuk meyakinkan pihak pengembang bahwa berinvestasi di dalam industri panas bumi Indonesia akan menguntungkan sehingga proses bisnis panas bumi pun dapat berjalan. Dalam studi ini akan disajikan suatu analisis keekonomian lapangan panas bumi dominasi air yang belum dikembangkan dengan membuat suatu grafik hubungan antara jumlah sumur terhadap kapasitas lapangan yang akan dikembangkan. Studi kasus dilakukan terhadap lapangan-lapangan yang berpotensi untuk dikembangkan dalam kategori potensi sumber daya dan cadangan yang memadai serta sudah masuk ke dalam Wilayah Kerja Panas bumi / WKP yang siap dilelang. Dari lapangan-lapangan tersebut dipilih satu lapangan untuk mewakili daerah Indonesia Barat dan dua lapangan untuk mewakili daerah Indonesia Timur. Lapangan yang dipilih untuk mewakili wilayah Indonesia Barat adalah WKP Geureudong yang memiliki proyeksi kapasitas 55 MW, berada di wilayah Aceh. Sedangkan dua lapangan lainnya yang dipilih untuk mewakili wilayah Indonesia Timur adalah WKP Kotamobagu yang berada di wilayah Sulawesi Utara dan WKP Jailolo yang berada di wilayah Maluku Utara, kedua lapangan tersebut masing-masing memiliki proyeksi kapasitas pembangkit secara berurutan sebesar 80 MW dan 20 MW. Hasil dari pemodelan keekonomian proyek panas bumi yang telah dilakukan untuk Lapangan Jailolo dengan proyeksi kapasitas PLTP 20 MW membutuhkan total biaya modal sebesar 6,62 juta US$/MW dengan nilai Net Present Value / NPV dan Internal Rate of Return / IRR masing-masing sebesar 162,1 juta US$ dan 21,30 % pada harga listrik 20 cent US$/kWh. Untuk Lapangan Geureudong dengan proyeksi kapasitas PLTP 55 MW membutuhkan total biaya modal sebesar 4,62 juta US$/MW dengan nilai NPV dan IRR masing-masing sebesar 223,2 juta US$ dan 18,20 % pada harga listrik 11,14 cent US$/kWh. Serta untuk Lapangan Kotamobagu dengan proyeksi kapasitas PLTP 80 MW membutuhkan total biaya modal sebesar 5,48 juta US$/MW dengan nilai NPV dan IRR masing-masing sebesar 369,4 juta US$ dan 18,11 % pada harga listrik 13 cent US$/kWh.