Article Details

THE EFFECT OF NEGATIVE PUBLICITY ON BRAND EQUITY (IMAGE, ATTITUDE, AND PURCHASE INTENTION) IN INDONESIA: CASE OF DOLCE AND GABBANA RACISM SCANDAL

Oleh   Mawaddah Ilona Maslikhan [19015050]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ira Fachira, Ph.D.
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Sekolah Bisnis dan Manajemen
Fakultas : Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM)
Subjek :
Kata Kunci : Publisitas Negatif, Sikap Merek, Citra Merek, Niat Beli, Kesadaran dan Kepedulian terhadap Rasisme
Sumber :
Staf Input/Edit : Taupik Abidin  
File : 1 file
Tanggal Input : 2019-09-11 08:40:40

Makalah ini meneliti pengaruh publisitas negatif terhadap sikap merek, citra merek, dan niat beli dalam konteks barang mewah di Indonesia. Dengan melihat pengaruh publisitas negatif terhadap sikap dan citra merek yang kemudian dikorelasikan dengan niat beli, untuk melihat hubungan niat beli terhadap sikap dan citra merek. Variabel tambahan pada kesadaran dan kepedulian terhadap rasisme ditambahkan untuk melihat adanya hubungan dengan niat beli setelah dipengaruhi publisitas negatif. Variabel ini dipilih karena kecenderungan masyarakat yang lebih tinggi terhadap rasisme, tokenisme, perampasan budaya, dan kesalahpahaman dalam merepresentasikan industri fashion dan kecantikan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif melalui kuesioner online di mana 104 responden dikumpulkan menggunakan pendekatan convenience sampling dan dianalisis dengan menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test dan Spearman Correlation test. Hasil analisis menunjukkan bahwa publikasi negatif memiliki pengaruh negatif terhadap sikap dan citra merek. Temuan ini juga menunjukkan adanya hubungan positif yang kuat antara sikap merek & niat beli, dan citra merek & niat beli. Di sisi lain, korelasi juga terjadi antara kesadaran dan kepedulian terhadap rasisme, dengan niat beli setelah dipengaruhi publisitas negatif, akan tetapi sangat lemah. Hasilnya bisa jadi disebabkan karena informasi negatif yang diberikan bukan tentang rasisme di Indonesia itu sendiri melainkan di Cina, sehingga meskipun kecenderungan orang Indonesia dalam kesadaran dan kepedulian terhadap rasisme tinggi, belum tentu berdampak pada tingkat yang sama terhadap niat pembelian.