Article Details

FLUIDITAS IRIGARAY SEBAGAI PERSPEKTIF DALAM MEMBACA SPASIALITAS DI RUANG LIMINAL URBAN INDONESIA

Oleh   Widya Suryadini [35212007]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Ir. Iwan Sudradjat, MSA, Ph.D.;Prof. Dr. Yasraf Amir P., MA;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Subjek : Architecture
Kata Kunci : Fluiditas Irigaray, Ruang Liminal, Liminalitas, Spasialitas, Hermeneutika Kritis
Sumber :
Staf Input/Edit : Sandy Nugraha   Ena Sukmana
File : 1 file
Tanggal Input : 28 Jun 2019

Ruang kota adalah pengejawantahan budaya dari banyak gagasan yang berasal dari warga yang menempatinya, sekaligus menghidupinya. Dialektika dan dialog antara manusia dengan ruang, yang memunculkan konfigurasi ruang secara fisik material, maupun konsep mengenai ruang sebagaimana dikonstruksi secara sosial, adalah spasialitas. Spasialitas sebagai suatu bentuk geokritisisme adalah abstraksi dari berbagai interaksi rumit yang terjadi dalam ruang tersebut. Karena spasialitas dibangun oleh subyek, dan subyek ini bergender, maka spasialitas juga menjadi bergender. Dalam perspektif feminis, ruang kemudian menjadi satu wahana krusial dalam konstruksi gender. Membaca konstruksi gender dalam ruang membutuhkan perspektif yang sensitif terhadap permasalahan gender. Perspektif yang menarik untuk digunakan adalah konsep fluiditas yang digagas oleh filsuf feminin terkemuka dari Perancis Luce Irigaray. Proyek utama Irigaray adalah untuk menggugat pengucilan perempuan dalam sejarah filosofi, teori psikoanalisis, dan kebahasaan struktural, yang bermuara pada kritik terhadap konsepsi tradisional mengenai gender, diri, dan tubuh. Fluiditas Irigaray adalah konsep yang merujuk kepada (1) logika yang dibangun oleh kehadiran subyek yang berbeda, atau oposisi antara dikotomi maskulin yang terstruktur dan rigid dengan logika feminin yang cair dan lentur; (2) proses men-Jadi (becoming) yang menerus dari subyek perempuan dan laki-laki yang mengeksplorasi perbedaan dan kebaruan; (3) sebuah bahasa yang berbeda, bersifat puitis, mempertanyakan, bermain-main, tak mudah ditangkap (elusive), disertai penggunaan imajeri yang ekstensif, untuk menjaga agar pemikiran dan batasan tetap cair; serta (4) eksplorasi atas segala perbedaan lain (termasuk juga perbedaan antara perempuan yang satu dengan yang lain, atau relasi yang berbeda antar subyek). Dalam penelitian ini, fluiditas memiliki konsekuensi langsung bagi arsitektur, ruang urban, dan pengalaman urban. Dalam konteks spasial, fluiditas merentang dari ruang privat hingga ruang sosial di mana pertukaran yang cair dimungkinkan. Fluiditas juga merujuk kepada sifat ambigu yang dikandung oleh konfigurasi spasial tertentu yang disebut ruang liminal. Ruang liminal adalah ruang yang digunakan sebagai ambang, atau berfungsi sebagai ruang transisi antara status atau peran sosial tertentu, berdasarkan konsep liminalitas yang dikembangkan oleh van Gennep dan Turner dalam antropologi. Sebagai suatu ambang, ruang liminal mengandung kemungkinan yang tak terbatas. Ruang liminal adalah persimpangan, namun sekaligus juga pusat. Ruang liminal adalah ruang tempat sebuah pengalaman bermula, sekaligus juga sebagai tempat yang tak di manamana. Penelitian ini bermaksud untuk melakukan penjelajahan teoritis spekulatif mengenai konsep fluiditas yang digagas oleh Luce Irigaray, untuk kemudian dikaitkan dengan spasialitas di ruang liminal urban di Indonesia kontemporer. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah: (1) Mengkaji kemungkinan penerapan konsep fluiditas Irigaray sebagai sebuah perspektif dalam menelaah ruang urban kontemporer, dengan menggunakan aneka permasalahan spasialitas di ruang liminal urban di Indonesia sebagai ilustrasi; (2) Melakukan refleksi kritis terhadap konsep fluiditas Irigaray sebagai sebuah perspektif dalam pembacaan spasialitas di ruang liminal urban Indonesia. Penelitian menggunakan metode hermeneutika kritis sebagai alat untuk melakukan interpretasi atas konsep fluiditas dalam konteks ruang liminal urban. Proses analisis dilakukan dengan menggunakan metode ilustratif di mana kasus yang relevan dipilih sebagai ilustrasi dari konsep yang sedang dibahas. Pembahasan dalam penelitian ini dilakukan dalam tema sebagai berikut: (1) kelenturan dalam interioritas ruang liminal; (2) porositas batas dan perbatasan; (3) perbedaan dan toleransi: permasalahan tubuh ketiga; (4) ruang yang ditiadakan: informalitas dalam ruang dan proses meruang; (5) pengalaman transformatif dalam perjalanan. Dalam bagian terakhir dilakukan kritik sebagai sebuah refleksi kritis atas konsep fluiditas Irigaray yang diletakkan dalam rona spasial, khususnya dalam konteks ruang liminal urban Indonesia. Kritik dilakukan dengan menyajikan kontribusi, prospek, kekuatan, dan keterbatasan dari konsep ini saat digunakan sebagai sebuah perspektif dalam melakukan interpretasi atas ruang urban dalam konteks yang spesifik seperti ruang urban Indonesia, dan ditutup dengan sebuah Catatan Akhir.